Dari Bilogai Untuk Indonesia

    0
    55

    TNI dan Warga Papua Rajut Persaudaraan Lewat Budaya dan Kerajinan Lokal

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di tengah tantangan menjaga perbatasan, prajurit TNI dari Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 500/Sikatan memilih pendekatan yang lebih manusiawi: merangkul masyarakat melalui budaya dan kearifan lokal.

    Pada Senin (30/6/2025), sepuluh anggota Satgas yang dipimpin oleh Serka Lukman mengunjungi TK Bilogai tidak dengan senjata, melainkan dengan senyuman, sapaan hangat, dan ketulusan. Mereka berinteraksi dengan masyarakat, berdialog akrab, dan menunjukkan dukungan nyata terhadap pelestarian budaya Papua dengan membeli kerajinan tangan khas daerah, seperti kalung dan gelang yang dibuat oleh warga lokal.

    “Kerajinan ini bukan sekadar oleh-oleh. Ini adalah identitas dan kebanggaan masyarakat Papua yang harus dijaga. Kami mengenakannya bukan hanya sebagai hiasan, tetapi sebagai bentuk penghormatan dan cinta terhadap budaya yang luar biasa ini,” ungkap Serka Lukman dengan penuh makna.

    Interaksi sederhana ini ternyata menghasilkan dampak yang luar biasa. Suasana yang dipenuhi tawa, obrolan hangat, dan rasa saling menghargai mengalir dalam kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) tersebut. Bagi masyarakat, ini bukan sekadar kunjungan militer, melainkan sebuah pengakuan dan penguatan identitas mereka.

    “Setiap kali kami datang, kami selalu belajar. Kami belajar tentang nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan kearifan hidup masyarakat Papua. Kami tidak ingin hadir sebagai tamu, tetapi sebagai saudara,” ungkap salah satu anggota dengan mata yang berkaca-kaca.

    Ini bukan kali pertama Satgas Yonif 500/Sikatan menjalin hubungan seperti ini. Namun, setiap pertemuan selalu memiliki makna yang mendalam. Kegiatan ini menunjukkan bahwa misi TNI tidak hanya sebatas menjaga wilayah, tetapi juga membangun jembatan emosional yang memperkuat semangat “TNI bersama rakyat” dalam arti yang sesungguhnya.

    Lebih dari Sekadar Tugas, Ini adalah Pengabdian yang Tulus
    Dari Bilogai, kisah persaudaraan ini menyebar ke seluruh penjuru negeri, mengingatkan kita bahwa kedamaian dan cinta tanah air tidak selalu lahir dari pidato atau kebijakan. Sebaliknya, semuanya bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti sebuah gelang, senyuman, dan pelukan budaya.

    Sumber:
    (Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)