Masyarakat Intan Jaya Desak Perubahan: ‘Kami Ingin Damai, Bukan Teror
PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Keamanan dan ketentraman masyarakat Papua kembali terganggu akibat aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis bersenjata dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap VIII Intan Jaya. Pada awal pekan ini, serangan brutal yang ditujukan kepada warga sipil tak bersenjata mengakibatkan satu orang tewas, memperburuk ketegangan dan menimbulkan rasa takut yang mendalam di kalangan masyarakat setempat.
Insiden ini segera memicu kemarahan dan kecaman dari warga Intan Jaya. Dalam pertemuan darurat yang diadakan oleh tokoh adat, pemuda, dan tokoh agama di Sugapa, masyarakat secara tegas mengecam tindakan penembakan tersebut, yang dianggap semakin merusak tatanan sosial dan membahayakan keselamatan warga.
Tokoh adat Intan Jaya, Yonas Sondegau, menyampaikan kekecewaan dan keprihatinannya terhadap tindakan OPM. “Mereka mengklaim berjuang untuk rakyat Papua, tetapi kenyataannya, mereka justru menambah penderitaan bagi masyarakat itu sendiri. Ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap tanah dan leluhur kita,” tegas Yonas dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh warga pada Minggu (29/6/2025).
Di sisi lain, para pemuda Intan Jaya juga menyuarakan ketidakpuasan mereka. Ketua Pemuda Intan Jaya, Filep Mote, dengan tegas menyatakan bahwa OPM Kodap VIII semakin kehilangan dukungan dari masyarakat. “Kami sudah terlalu lama terjebak dalam konflik. Kami lelah melihat darah dan air mata tumpah di tanah kami. Kami, generasi muda Papua, hanya menginginkan hidup damai, bukan hidup di bawah ancaman teror bersenjata,” ungkap Filep.
Tidak hanya dari kalangan adat dan pemuda, tokoh agama setempat juga memberikan respons yang kuat terhadap tragedi ini. Pdt. Mikhael Wakerkwa, seorang pendeta lokal, mengajak masyarakat untuk berdoa bersama bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Ia menegaskan bahwa gereja akan selalu berdiri di samping masyarakat dalam melawan kekerasan. “Jangan biarkan Papua menjadi ladang pembunuhan. Tuhan tidak menginginkan umat-Nya saling membunuh,” ujarnya dengan penuh emosi.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan yang dilakukan oleh OPM di Papua, yang semakin menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak memberikan solusi bagi rakyat, melainkan hanya menambah penderitaan. Masyarakat Intan Jaya semakin menyadari dan menegaskan penolakan mereka terhadap segala bentuk kekerasan dan teror yang terjadi atas nama perjuangan. Kini, lebih dari sebelumnya, suara rakyat Intan Jaya bersatu untuk menyerukan perdamaian. (Red-033)

