Gili Ketapang,(Cakrayudha-hankam.com) – Gili Ketapang, pulau terluar di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena tradisi unik warga setempat.
Setiap tahun pada masa pemberangkatan ibadah haji, warga Gili Ketapang menjalankan tradisi mengantar keluarga atau kerabat mereka yang akan menunaikan haji dengan menggunakan perahu hias.
Mereka menempuh perjalanan cukup jauh dari tempat tinggalnya menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga di Kota Probolinggo. Tahun ini, ada 40 perahu hias yang berangkat dari Pulau Gili Ketapang ke kawasan perkotaan Probolinggo untuk mengantar jemaah calon haji.
Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Gili Ketapang. Setiap perahu hias dihiasi dengan kain warna-warni, bendera, dan hiasan lain yang melambangkan kegembiraan dan semangat dalam menjalankan ibadah haji.
Perahu-perahu ini menjadi atraksi memukau saat berlayar dari Gili Ketapang menuju daratan Probolinggo.
Setibanya tiba di dermaga Pelabuhan Tanjung Tembaga di Kota Probolinggo, suasana meriah semakin terasa. Keluarga dan kerabat yang tinggal di kawasan perkotaan menyambut jemaah calon haji beserta rombongan dengan hangat.
Tradisi masyarakat Gili Ketapang mengantar jemaah calon haji menggunakan perahu hias merupakan bentuk penghormatan dan dukungan kepada keluarga yang berangkat menunaikan rukun Islam kelima.
Tradisi ini juga memperkuat ikatan sosial dan memupuk rasa kebersamaan dalam komunitas masyarakat Gili Ketapang. Tradisi mengantar keluarga pergi haji naik perahu hias menjadi simbol kegembiraan, semangat, dan rasa persatuan yang tinggi di tengah masyarakat Probolinggo, sebagaimana seperti dikutip media ini dari tayangan YouTube Liputan6, Jumat (16/6/23).
Tahun ini, ada 40 perahu hias yang berlayar dari Gili Ketapang menuju pusat Kota Probolinggo untuk mengantar jemaah calon haji yang akan berangkat ke Tanah Suci melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya.(Red)

