Perempuan Papua Jadi Korban Kekejaman OPM

0
148

Ini Bukan Perjuangan, Ini Kejahatan Kemanusiaan

 

PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Kecaman terhadap kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin deras, menyusul laporan mengerikan terkait kekerasan terhadap perempuan di wilayah pedalaman Papua. Tidak hanya menggunakan senjata, kelompok ini juga diduga kuat terlibat dalam tindakan pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap perempuan—korban paling rentan dalam pusaran konflik yang belum usai.

Perempuan Jadi Korban Kekejaman, Warga Papua Marah
Sejumlah laporan dari warga lokal mengungkapkan bahwa OPM telah menjadikan perempuan sebagai sasaran dalam berbagai aksi mereka. Banyak dari korban dipaksa melayani kebutuhan anggota bersenjata, dijadikan tameng manusia, bahkan mengalami pelecehan seksual yang meninggalkan trauma mendalam.

Tokoh perempuan Papua, Mama Yohana Wenda, menyuarakan kepedihannya atas penderitaan yang dialami kaumnya.

“Perempuan Papua adalah simbol kehidupan dan kekuatan. Jika mereka dilukai, maka seluruh nilai perjuangan hilang. OPM bukan lagi alat pembebasan, tapi telah menjadi alat kekuasaan,” tegasnya, Selasa (22/7/2025).

Pemimpin OPM Dinilai Abai, Menikmati Hidup Nyaman di Luar Negeri
Sorotan tajam juga datang dari tokoh gereja Kabupaten Puncak, Pendeta Desiana Gobai. Ia mengkritik para pimpinan OPM yang hidup di luar negeri namun tak mengambil tanggung jawab atas kekerasan di Papua.

“Mereka tinggal nyaman di luar negeri, berbicara soal revolusi dari jauh, sementara di Papua, perempuan kami diperkosa dan diperlakukan tidak manusiawi. Ini bukan perjuangan, ini pelanggaran hak asasi manusia yang serius,” ujar Desiana dengan nada geram.

Seruan Penyelidikan dan Perlindungan untuk Perempuan di Wilayah Konflik
Desakan untuk mengusut tuntas kekerasan terhadap perempuan Papua kini semakin menguat. Berbagai organisasi perempuan dan tokoh adat menuntut penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan pelanggaran oleh OPM, serta kehadiran aktif aparat keamanan untuk melindungi warga sipil—terutama perempuan dan anak-anak—dari ancaman kekerasan.

Ketua Dewan Adat Wilayah Lapago, Elias Itlay, mengecam keras tindakan OPM yang menurutnya bertentangan dengan nilai-nilai adat Papua.

“Dalam budaya kami, perempuan harus dilindungi. Mereka (OPM) bukan pejuang, tapi pemangsa rakyat sendiri. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.

Perempuan Papua Bangkit Menolak Kekerasan
Suara perempuan Papua kini bangkit. Mereka tak lagi diam menghadapi kekerasan. Mereka menuntut keadilan, perlindungan, dan pengakuan sebagai manusia seutuhnya—yang selama ini terinjak-injak atas nama perjuangan yang telah kehilangan arah.

Masyarakat berharap agar tragedi ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa konflik bersenjata yang menempatkan perempuan sebagai korban adalah bentuk kebiadaban yang harus dihentikan segera.(Red-033)