Belitung,(Cakrayudha-hankam.com) – Jika tak pakai, badan jadi pegal-pegal. Demikian pengakuan seorang yang ketergantungan Tramadol selama 11 tahun. Saat ini peredaran Tramadol ilegal makin marak, 4000 butir berhasil digagalkan pengirimannya.
“Kalau sekarang sudah terasa efeknya, badan itu pegal-pegal. Terus efek obat itu juga sudah BAB,” kata SC, pria pegawai swasta berusia 38 tahun ketika bercerita tentang kecanduannya pada Tramadol, Sabtu (13/7/2024).
Tramadol adalah obat opioid yang digunakan untuk meredakan nyeri sedang hingga berat dalam jangka pendek. Biasanya tidak direkomendasikan untuk pengobatan nyeri kronis (jangka panjang) dan hanya tersedia dengan resep dokter.
SC mengatakan dia mengonsumsi Tramadol ilegal semenjak 2013 silam. Menurutnya awal mengonsumsi obat tersebut untuk membantu penyakit insomnia atau susah tidur.
“Awalnya untuk susah tidur, kalau minum itu badan terasa enak. Satu lagi untuk dopping seks, bisa tahan lama,” ujarnya.
Pria 38 tahun itu mengaku tidak merasa ketergantungan terhadap tramadol ilegal. Karena dirinya hanya mengonsumsi satu sampai dua kali setiap minggu. Tapi semenjak 2017, tingkat konsumsinya meningkat. Sebab, efek dari obat tersebut mulai berkurang
Ia tak menampik seiring bertambahnya usia, efek samping dari obat tersebut mulai terasa seperti badan terasa pegal-pegal setelah efek obatnya menghilang.
Ia menilai harga beli tramadol ilegal semakin tahun kian tinggi. Sebab, awal 2017 dirinya membeli masih di harga Rp70 ribu per strip dan sekarang sudah mencapai Rp130 sampai 150 ribu per strip.
SC mengakui saat ini dirinya perlahan mulai mengurangi konsumsi tramadol, hanya saja prosesnya tidak bisa instan. Sebab, pada dasarnya dirinya paham resiko mengonsumsi obat tersebut. “Pelan-pelan, paling sekarang seminggu satu kali,” katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh RI yang mengakui mengonsumsi tramadol semenjak usai SMA. Pria berusia 25 tahun itu awalnya hanya coba-coba ketika ditawari teman sekolahnya.
Bahkan efek pertama yang dirasakan justru seperti demam karena badan terasa panas dingin. Tapi setelah dicoba beberapa kali, efeknya sudah berbeda karena badan terasa nyaman.
“Kalau dulu itu untuk dopping mabuk. Karena kalau minum itu, bisa minum alkohol lebih banyak, agak lama baru mabuk,” katanya.
Tetapi, bujangan kelahiran 1999 itu semakin tahun mulai terasa ketergantungan. Sebab pada 2019, dirinya mulai menambah jumlah obat yang dikonsumsi menjadi dua sampai tiga tablet sekali minum.
“Dosisnya nambah karena efeknya sudah tidak terasa kalau satu. Jadi kalau tidak minum itu kayak pegal-pegal,” katanya mengakhiri perbincangan bersama awak media.(Red)

