Merah Putih dan Alkitab di Tanah Doa

    0
    82

    Saat Iman dan Nasionalisme Berpelukan di Perbatasan Papua

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di balik kabut yang menyelimuti pegunungan tinggi Papua, terdapat sebuah kisah yang menyentuh hati di Pos Pintu Jawa, Distrik Mage’abume. Kisah ini menggambarkan semangat nasionalisme yang muncul dari altar gereja, di mana bendera Merah Putih tidak hanya berkibar di tiang-tiang militer, tetapi juga di halaman rumah ibadah sebagai lambang persatuan dan kasih. Rabu, 16 April 2025.

    Dua pendeta dari daerah terpencil, Pendeta Etinus Walia dan Pendeta Pang Talenggen, datang bukan untuk mengajukan keluhan atau permohonan keamanan. Mereka membawa harapan yang sederhana namun luar biasa: keinginan agar bendera Merah Putih dapat berkibar di gereja mereka, berdampingan dengan doa dan lagu-lagu rohani. Permintaan ini lahir dari iman dan tumbuh dari cinta terhadap tanah air.

    Permintaan tersebut disambut dengan penuh rasa hormat oleh para prajurit Satgas Pamtas Mobile RI-PNG Yonif 700/Wira Yudha Cakti. Di bawah pimpinan Letda Inf Risal, mereka tidak hanya menyerahkan bendera, tetapi juga Alkitab, sebagai wujud penghormatan yang mendalam terhadap iman masyarakat setempat.

    “Permintaan ini menunjukkan bahwa semangat Indonesia tidak hanya hidup di kota-kota besar, tetapi juga mengakar kuat di sudut-sudut terpencil Papua. Kami merasa bangga dapat menjadi bagian dari kisah ini,” ungkap Letda Inf Risal dengan mata yang berkaca-kaca.

    Di tanah yang sering kali diliputi berita konflik, hari itu justru muncul sebuah kabar damai: bendera negara berkibar dengan megah di gereja, dijaga oleh doa dan keyakinan. Di tempat yang biasanya dipenuhi suara tembakan, kini bergema nyanyian rohani dan tawa persaudaraan.

    Mayjen TNI Lucky Avianto, Panglima Komando Operasi Habema, menilai kisah ini sebagai bukti nyata dari kemanunggalan antara TNI dan masyarakat Papua.

    “Ketika bendera dan kitab suci bersatu, itu bukan hanya simbol; melainkan bukti bahwa Indonesia dibangun atas dasar keberagaman yang saling menghormati. Tindakan ini mencerminkan wajah sejati TNI: humanis, religius, dan nasionalis,” tegasnya.

    Kisah ini lebih dari sekadar berita dari perbatasan. Ini adalah simfoni dari Timur Nusantara, di mana iman dan nasionalisme berpadu dalam keheningan pegunungan, di antara langit biru dan tanah yang penuh harapan.

    Inilah Indonesia, di mana Merah Putih dan ayat suci berjalan beriringan.

    Authentication:
    (Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)