Jakarta,(Cakrayudha-hankam.com) – Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa kinerja sektor industri dalam transformasi ekonomi menjadi kunci agar Indonesia bisa keluar dari middle income trap atau jebakan negara kelas menengah.
Menurut Menperin, cara yang bisa dilakukan untuk keluar dari middle income trap adalah dengan meningkatkan produktivitas yang diiringi dengan meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat.
“Kalau kita bicara soal backward linkage dan forward linkage bukan hanya di otomotif. Kalau kita tarik ke atas backward and forward linkage yang dihasilkan dari sektor manufaktur sangat-sangat besar yang pasti bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia,” kata Menperin dalam Rapat Kerja Kementerian Perindustrian di Ritz Carlton Jakarta, Jumat (16/6).
Menperin menyampaikan kondisi industri saat ini perlu menjadi perhatian bersama. Berdasarkan catatan Menperin, sejak Indonesia masuk dalam penilaian PMI yaitu pada tahun 2011, belum pernah dalam sejarahnya selama setahun penuh Indonesia selalu dalam ekspansi.
“Ini kemudian terjadi sepanjang tahun 2022 lalu di mana selama 17 bulan berturut-turut PMI kita ekspansi,” katanya.
Di awal tahun 2023, PMI pun sebenarnya pada kondisi ekspansif, namun tidak se-ekspansif tahun sebelumnya dan ada kecenderungan tumbuh melambat, sehingga pada perkembangannya, terdapat tiga nilai PMI yang mendekati angka 50 atau tidak terjadi ekspansi yang berarti. Salah satunya pada PMI bulan Mei 2023.
“Kondisi ini juga terjadi di negara-negara lain di ASEAN dan negara ekonomi besar dunia,” ujar Menperin.
Ekspansif Cenderung Melambat
Sama halnya dengan IKI, dari Januari hingga Mei 2023 masih dalam kondisi ekspansif, namun cenderung melambat.
Penurunan nilai IKI Mei 2023 terjadi karena penurunan nilai variabel Pesanan Baru sebesar 0.73 poin (menjadi 49.84) dan variabel Produksi yang menurun 2.07 poin (menjadi 50.01).
Di sisi lain, variabel persediaan mengalami kenaikan 2,67 poin (menjadi 54,90). Kondisi ini menunjukkan kegiatan produksi di bulan Mei hampir sama dengan bulan April, disebabkan oleh volume pesanan baru yang mengalami penurunan, sementara itu industri menghabiskan persediaan produknya untuk dijual.
“Pesanan domestik masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi indeks variabel pesanan baru,” ujarnya.
Namun demikian, pandangan terhadap kondisi usaha enam bulan ke depan tercatat sebesar 66,2 persen pelaku usaha lebih optimis.
Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 64,7 persen dan menjadi angka tertinggi sejak IKI diluncurkan.
“Jadi, PMI nya relatif turun tapi optimismenya naik, ini survey mereka mengatakan optimis karena itu mereka percaya bahwa global market akan segera membaik akan segera pulih dan juga mereka mengakui bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini cukup baik untuk menciptakan lingkungan yang kondusif,” pungkasnya.(Red)

