Maharaja Kutai Mulawarman Dorong Busana Adat Kutai Masuk Kancah Nasional dan Internasional

0
391

Samarinda, Cakrayudha-hankam.com — Maharaja Kutai Mulawarman, Duli Yang Maha Mulia Sri Paduka Baginda Berdaulat Agung Prof. Dr. M.S.P.A. Iansyah Rechza, FW., Ph.D., menyatakan komitmennya untuk mendorong pengakuan busana adat Kutai sebagai bagian kekayaan budaya nasional yang layak ditampilkan di forum nasional maupun internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar dan Pagelaran 10 Pengantin Kalimantan Timur sekaligus peluncuran Buku Pengantin Kaltim yang digelar di Ballroom Swiss-Belhotel Samarinda, pada Kamis (21/11/2025).

Acara ini diselenggarakan oleh DPD Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Kalimantan Timur dan dihadiri perwakilan DPC HARPI se-Kaltim. Kehadiran DPC HARPI Melati Kabupaten Kutai Kartanegara di bawah kepemimpinan Ny. Rahmawati Encek Yusran menjadi sorotan, mengingat peran aktif lembaga tersebut dalam mendokumentasikan, mengkaji, dan melestarikan tata rias adat Kutai.

Tenu Kutai Setengah: Identitas Historis dari Peradaban Kutai

Dalam kesempatan tersebut, Maharaja mempertegas peran Tenu Kutai Setengah sebagai busana adat resmi pengantin Kutai, khususnya pada prosesi Naik Mentuha. Busana ini merupakan perpaduan antara Tenu Kutai Antakesuma dan Tenu Kutai Kustim yang sejak era Kesultanan Kutai Kartanegara digunakan dalam lingkungan keraton.

Pembakuan busana ini telah dirumuskan dalam makalah yang disusun Maharaja pada 4 Juni 2013 di Samarinda dan mendapat dukungan dari:

Ketua Umum Concorsium Republik Indonesia: Nani Kusuma Reningdasih, M.Pd

Ketua Umum DPP HARPI Melati RI: Ny. Hj. Wiwiek Wahyono, S.Pd

Dengan legitimasi historis, akademis, dan adat, Tenu Kutai Setengah kini diposisikan sebagai salah satu busana pengantin Nusantara yang merepresentasikan identitas budaya Kalimantan Timur.

Rangkaian Adat Perkawinan Kutai

Upacara adat perkawinan Kutai terdiri atas beberapa prosesi sakral, di antaranya Bepacar, Besiram, Bealis dan Betatai, Naik Pengantin, serta Naik Mentuha sebagai puncak acara. Pada tahapan akhir inilah Tenu Kutai Setengah digunakan.

Elemen busana pengantin wanita antara lain:

Pakaian Kustim hitam bordir emas

Tapeh Alang songket merah

Kelibun dua lapis berhias kuningan dan manik

Mahkota tradisi seperti Gelong Asam Sekepeng, Sekar Suhun, dan Kembang Mayang

Sementara busana pengantin pria ditandai dengan:

Mahkota Gorda Mungkur

Engkalong Naga Kepala Empat

Tapeh Alang model dodot

Keris berselendang kuning

Rias wajah bernuansa keemasan sesuai estetika adat Kutai

Setiap ornamen memiliki nilai filosofis sebagai simbol martabat, leluhur, dan struktur adat kerajaan.

Dalam kegiatan tersebut, Maharaja Kutai Mulawarman juga menganugerahkan gelar bangsawan kepada tokoh-tokoh yang dinilai berjasa dalam pelestarian budaya, di antaranya:

Dr. Ir. Hetifah Syaifudian, M.PP — Paduka Yang Mulia Putri Syarif Mulia Natadewi

RA Kanas Kosasih Koesoemodinata, S.E., M.Ht — Paduka Yang Mulia Putri Saraswati Cempakadewi

Listiani Sintawati, S.H — Paduka Yang Mulia Putri Pramewari Muliawarmandewi

Endry Susetyo, S.S — Tumenggung Arya Hamengkubedaya

Kiftiawati, S.S., M.Hum — Raden Ayu Perwati Indudewi Parwati

Ir. Suyatmi Harun, M.M — Gusti Raden Ayu Mahadewi Candrakirana

Penghargaan khusus juga diberikan kepada Lilik Eka Hartati, S.Pd selaku Ketua DPD HARPI Melati Kalimantan Timur.

Diplomasi Kebudayaan

Maharaja menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari diplomasi kebudayaan untuk pengakuan internasional.

“Pakaian adat adalah bahasa kebesaran bangsa. Kutai harus hadir kembali bukan hanya sebagai sejarah, tetapi identitas yang hidup, dihormati, dan dibawa ke pentas dunia,” ujarnya.

Melalui standardisasi akademik, penerapan dalam prosesi resmi, serta penerbitan buku, Tenu Kutai Setengah diharapkan menjadi referensi nasional dan bagian dari representasi kebudayaan Nusantara.(red-ziz)