Harga Telur Bakal Terus Melambung

    0
    61

    Subsidi Jagung Tak Selesaikan Masalah

     

    Jakarta,(Cakrayudha-hankam.com) – Rencana pemerintah untuk memberikan subsidi jagung dalam merespon kenaikan harga telur dinilai tak jadi kebijakan tepat untuk menekan harga telur di pasaran.

    Pasalnya, dampak subsidi jagung pada harga telur baru terlihat setelah periode masa tanam jagung.

    “Skema subsidi ini jika dilakukan, dampaknya baru dapat dirasakan setelah 80-110 hari masa tanam jagung.

    Selama periode tersebut, harga telur akan cenderung tetap tinggi dan bahkan berpotensi terus naik,” ujar Peneliti Center for Indonesian Studies (CIPS), Mukhammad Faisol Amir dalam keterangan tertulis, Kamis, (25/5/2023).

    Berdasarkan data PIHPS, harga telur ayam ras segar mencapai Rp 31.900 per kg pada 24 Mei 2023.

    Pada bulan sebelumnya, 17 April 2023, harga telur ayam masih berada di Rp 29.900 per kg. Data ini menunjukkan kenaikan harga telur ayam mencapai 6,7 persen dalam lima pekan terakhir.

    Selain dampak terhadap harga telur yang tidak langsung dirasakan masyarakat, Faisol menambahkan, skema subsidi jagung juga berpotensi menimbulkan persoalan baru.

    Kelebihan pasok atau oversupply jagung disebut justru akan merugikan petani saat masa panen.

    Ia melanjutkan, beberapa hal yang juga membuat kebijakan ini sulit dilakukan adalah penentuan skema subsidi dan durasi pemberian subsidi.

    Jika subsidi jagung diberikan terlalu lama, lagi-lagi akan berpotensi menimbulkan oversupply.

    Menyulitkan Peternak Telur
    Faisol menambahkan, pembatasan impor jagung hanya untuk BUMN dengan API-U menyulitkan peternak telur ayam untuk mendapatkan pakan yang berkualitas dan lebih murah.

    “Swasta perlu dilibatkan dalam importasi jagung, sehingga peternak dapat mengakses pakan murah dan berkualitas dengan lebih cepat,” ungkapnya.

    Kemunculan El Nino juga membuat masa tanam dan masa panen jagung terancam tidak berjalan sebagaimana yang sudah direncanakan. El Nino yang berkepanjangan dapat menimbulkan banyak hal, salah satunya kebakaran hutan.

    “Bagi sektor pertanian, bencana El Nino memberikan beberapa dampak negatif, seperti mengeringnya tanah pertanian hingga menyebabkan perubahan pola tanam serta pola/siklus perkembangbiakan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman jagung.

    Selain itu, munculnya El Nino juga berakibat pada berkurangnya ketersediaan air bersih,” tandasnya mengakhiri perbincangan bersama awak media.(Red)