Pasuruan || Cakrayudha_hankam.com – Gerakan 21 ketua lembaga Turun Gunung. Mereka akan merepresentasikan kepedulian bersama untuk menghidupkan kembali sejarah dan budaya di Kota Pasuruan.
Totok, Ketua LSM Pasdewa, Pasuruan memiliki akar sejarah yang kuat sebagai kota pelabuhan tua dan pusat perdagangan sejak era kolonial.
“Ini merupakan langkah-langkah strategis yang dapat kita capai bersama melalui kolaborasi antar ketua sebagai bentuk kecintaan kita terhadap budaya di kota kami,” kata Totok. Minggu (19/07/2026).
Pada Hari Senin nanti, tepatnya pada tanggal 20 Juli 2026, bersama 21 para tokoh-tokoh ketua lembaga sosial masyarakat yang tergabung dalam aliansi poros netral kami akan menggelar aksi peduli sejarah dan budaya lokal Kota Pasuruan.
Secara serentak kami menyuarakan bersama kepada Pemerintah daerah Kota Pasuruan, bahwa saat ini Pasuruan sedang “Darurat Sosial Budaya” dan pada hari itu, kami Iventarisasi Bangunan Cagar Budaya yang mana demi menyelamatkan kawasan bersejarah, seperti kompleks di sekitar Jalan Balaikota yang dulunya merupakan permukiman elit bangsa Eropa.
Selanjutnya, kata ToTok, kami juga akan sampaikan kepada Walikota Pasuruan dan Wakil Wali Kota Pasuruan untuk merevitalisasi tradisi Lokal. Kami minta agar pemerintah mengadakan kembali festival atau pertunjukan seni yang mengangkat narasi kejayaan masa lalu, menjadikan Alun-Alun Pasuruan dan sekitarnya sebagai pusat panggung kebudayaan.
“Kolaborasi Multi-Lembaga ini demi menyatukan visi lintas komunitas (budayawan, akademisi, dan pegiat sejarah) untuk menyusun kurikulum sejarah lokal bagi generasi muda,” tandasnya. (RMT)

