Bolos Sekolah di Warung Kopi, 17 Pelajar Digelandang Satpol PP

    0
    134

    BANDUNG, Cakrayudha-hankam.com – Sejumlah pelajar ditangkap oleh petugas Satpol PP karena kedapatan bolos sekolah di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, pada Kamis (8/5/2025).

    Mereka terjaring dalam razia yang dilakukan Satpol PP saat sedang berkumpul di warung kopi, di pinggir jalan, dan di lokasi-lokasi lain yang biasa dijadikan tempat bolos selama jam pelajaran. Petugas melakukan penyisiran di area Padalarang berdasarkan titik-titik yang telah dipetakan sebelumnya, lalu mengangkut para siswa yang melanggar tersebut ke dalam truk untuk dibawa ke Kantor Satpol PP Bandung Barat.

    Kepala Satpol PP, Ludi Awaludin, menyatakan bahwa setidaknya 17 pelajar, yang terdiri dari siswa SMP dan SMA, terjaring dalam patroli ini sebagai bagian dari upaya pencegahan kenakalan remaja.

    Awalnya, kami melakukan penertiban terhadap anak jalanan. Namun, saat melakukan patroli, kami menemukan sekelompok pelajar yang diduga bolos sekolah, sehingga mereka juga kami amankan,” jelas Ludi saat dikonfirmasi pada Kamis (8/5/2025).

    Dari hasil pemeriksaan, para pelajar yang terjaring razia mengaku sengaja bolos dengan alasan malas mengikuti pembelajaran di kelas. Mereka, yang berasal dari SMP dan SMA, lebih memilih menghabiskan waktu di warung kopi secara berkelompok.

    Petugas yang menemukan siswa-siswa tersebut segera mengangkut mereka ke dalam truk Dalmas. “Alasan mereka bervariasi, ada yang mengatakan tidak suka pelajaran matematika, dan ada juga yang memang malas sekolah. Apa pun alasannya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, sehingga kami amankan dan memberikan pembinaan,” tambah Ludi.

    Mereka yang terjaring kemudian diminta untuk memberikan identitas dan keterangan secara bergiliran. Namun, Satpol PP tidak menemukan pelajar yang terlibat dalam tindakan kekerasan, seperti tawuran atau geng motor. “Kami tidak menemukan benda tajam atau barang mencurigakan. Jadi, kemungkinan besar ini hanya kasus bolos sekolah.

    Kami akan mendata mereka dan menghubungi sekolah agar tindakan serupa tidak terulang,” jelas Ludi. Ia menambahkan bahwa patroli yang ditujukan kepada pelajar ini dilakukan sebagai langkah pencegahan, sesuai dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk mendisiplinkan siswa-siswa yang nakal.

    “Tentu, dalam konteks itu, pemeriksaan aktivitas mereka memang tidak dilakukan secara rutin, sehingga belum sampai pada tahap pengiriman ke barak. Namun, jika kejadian serupa terjadi di lain waktu, kemungkinan untuk mengirim mereka ke barak militer tetap ada,” jelasnya. (Red-033)