Antrean Darurat di Rumah Sakit Gajahmungkur

    0
    108

    SEMARANG, Cakrayudha-hankam.com – Di sudut timur Rumah Sakit Umum Gajahmungkur, seorang pria bernama Pak Wibowo duduk dengan gelisah. Celananya robek dari pangkal paha hingga lutut kanan, dan di antara robekan itu terlihat seekor buaya—ya, buaya yang sebenarnya—menggigit pahanya dengan penuh kasih, seperti kekasih yang terlalu posesif. Buaya itu tidak berteriak, hanya mendesah sesekali, seolah menyadari bahwa cinta sejati sering kali menyakitkan.

    Pak Wibowo bukanlah seorang nelayan, apalagi pawang reptil. Ia hanyalah dosen paruh waktu filsafat Jawa di Universitas Padepokan Nusantara. Dan yang lebih sial, buaya itu bukanlah simbol patriarki atau metafora untuk elite korup. Buaya itu nyata. Ia masuk melalui saluran belakang rumah saat hujan deras, melintasi dapur, dan kemudian mengejar Pak Wibowo yang sedang menggoreng tempe sambil merenungkan makna eksistensi tempe itu sendiri.

    Setibanya di UGD, dengan napas terengah-engah dan buaya masih tergantung di pahanya, ia berharap keajaiban medis segera datang. Namun, di sana sudah ada antrean. Seorang perawat berpakaian hijau pucat mencatat nama-nama dengan ekspresi datar, seolah baru saja terbangun dari tidur panjang.

    “Nomor antrean, Pak?” tanya perawat.

    “Maaf, saya tidak sempat mengambil nomor. Ini… buaya…” Pak Wibowo menunjuk pahanya dengan panik.

    “Anda tetap harus antre, Pak. Kami menghargai waktu semua pasien. Keadilan tidak boleh terganggu hanya karena rahang reptil,” jawab perawat tersebut.

    Dia kemudian menunjuk seorang bocah berusia enam tahun yang duduk santai di sudut ruangan. Lubang hidung bocah itu tampak mengkilap, seolah menjadi monumen perjuangan, karena terjebak di dalamnya adalah pembungkus permen karet rasa stroberi yang sulit dilepaskan.

    “Adik Slamet ini sudah antre lebih dulu. Jadi, sabar ya, Pak,” kata perawat itu sebelum pergi untuk mencatat suhu tubuh seorang nenek yang mengklaim bisa berbicara dengan ayam.

    Pak Wibowo duduk kembali. Buaya di pahanya mendesah lagi. Orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan penuh simpati dan rasa ingin tahu. Bahkan ada yang bertanya-tanya apakah itu buaya peliharaan yang posesif atau sebuah proyek seni instalasi.

    Jam berdetak. Di televisi ruang tunggu, iklan asuransi menampilkan sebuah keluarga bahagia yang tertawa di taman, seolah mengabaikan kenyataan. Di sisi lain, Bu Sulastri mulai berbagi cerita dengan Pak Wibowo tentang menantu barunya yang gemar bermain gim dan sering melupakan waktu sholat. Namun, tak ada satu pun yang menyebut tentang buaya.

    Di luar rumah sakit, kehidupan di Wakanda tetap berjalan seperti biasa. Jalanan dipenuhi kemacetan, berita di televisi nasional membahas pembangunan jembatan di tengah hutan, dan seorang pejabat pendidikan mengungkapkan bahwa tingkat literasi meningkat meskipun anak-anak lebih banyak membaca melalui komentar di YouTube. Anehnya, semuanya terasa normal. Seolah-olah memiliki buaya di paha tidak lebih serius daripada stiker bertuliskan “Sudah uji coba vaksin TBC,” sementara korupsi terus berlangsung. Seolah antrean darurat bisa ditunda oleh birokrasi nomor urut, mirip dengan bagaimana kita sering menunda-nunda hidup karena takut melawan sistem.

    Pak Wibowo mulai berbicara dengan buaya tersebut. “Apakah kamu juga sedang mencari makna hidup, Ndra?” tanyanya. Buaya yang kini diberi nama Ndra hanya melirik tanpa menunjukkan ekspresi. Mungkin ia juga menunggu panggilan, bukan dari dokter, tetapi dari alam untuk kembali ke sungai. Namun, di negeri ini, bahkan naluri hewan pun harus tunduk pada nomor antrean.

    Setelah menunggu selama dua jam dan melayani empat pasien lainnya—termasuk seorang pemuda yang menelan SIM karena takut razia—akhirnya nama Pak Wibowo dipanggil. “Tapi ini sudah tidak menggigit lagi,” ujar dokter setelah melihat Ndra yang kini tertidur di lantai seperti keset.

    “Ya, dia lelah menunggu,” jawab Pak Wibowo. “Mungkin buaya juga bisa mengalami depresi.” Dokter hanya mengangguk dan memberikan resep paracetamol serta salep untuk luka ringan.

    “Bagaimana dengan luka batin?” tanya Pak Wibowo.

    “Itu perlu konsultasi di poli psikiatri, tapi buka mulai hari Senin depan.”

    Dalam perjalanan pulang, Pak Wibowo dan Ndra berjalan berdampingan. Mereka tidak lagi dalam hubungan predator dan mangsa, melainkan sebagai sahabat sejati. Mereka menyadari bahwa luka fisik dapat sembuh, tetapi luka yang dianggap sepele oleh sistem akan terus menganga.

    Malam tiba di langit Gajahmungkur. Lampu-lampu kota menyala, seperti harapan kecil yang berjuang untuk bertahan di tengah kegelapan. Di antara semua absurditas itu, Pak Wibowo menyadari satu hal:

    Di negeri ini, buaya menggigit orang adalah hal yang biasa. Namun, yang luar biasa adalah ketika orang masih percaya bahwa sistem bisa lebih tajam daripada taring reptil.

    Dan terkadang, yang lebih menyakitkan daripada luka itu sendiri adalah menunggu dalam antrean. (Red-033)