Tokoh Adat Papua Bersatu: Tolak Keberadaan OPM

    0
    114

    Serukan Perdamaian dan Pembangunan

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Suara penolakan terhadap keberadaan dan aktivitas kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin menguat di seluruh Tanah Papua. Para tokoh adat dari berbagai daerah secara terbuka menyatakan penolakan tegas terhadap kelompok yang dianggap hanya membawa ketakutan, kekerasan, dan penderitaan bagi masyarakat Papua.

    Yonas Wakerkwa, Ketua Dewan Adat Wilayah La Pago, dengan tegas menyatakan bahwa tindakan OPM, seperti penembakan terhadap warga sipil, pembakaran fasilitas umum, dan penyanderaan tenaga pendidik serta tenaga kesehatan, adalah bukti nyata bahwa mereka tidak peduli dengan masa depan Papua. “Kami menolak kehadiran mereka. Mereka bukan pejuang, melainkan sumber penderitaan bagi rakyat Papua,” ujarnya dengan penuh keyakinan pada Minggu (29/6/2025).

    Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Markus Dogopia, Ketua Lembaga Masyarakat Adat Mee Pago. Ia menekankan bahwa masyarakat adat telah lama hidup dalam ketakutan akibat kekerasan yang terus menerus terjadi di desa-desa mereka. “Yang kami butuhkan adalah sekolah, puskesmas, jalan, dan air bersih. Kami tidak memerlukan senjata dan teror,” tegasnya dengan nada serius, mencerminkan harapan masyarakat untuk hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan.

    Selain itu, Maria Werembai, seorang tokoh perempuan adat dari wilayah Anim Ha, juga mengutuk keras eksploitasi anak muda oleh OPM. Maria menyatakan keprihatinannya terhadap masa depan generasi muda Papua yang sering kali dipaksa bergabung dengan kelompok bersenjata. “Anak-anak kami seharusnya belajar, bukan diajari untuk memegang senjata. Kami menolak OPM yang merusak masa depan generasi kami,” ungkapnya dengan penuh emosi.

    Dalam pernyataan bersama yang dibacakan di akhir pertemuan, para tokoh adat menegaskan komitmen mereka untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan aparat keamanan dalam upaya menciptakan perdamaian di seluruh Papua. Mereka juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang disebarkan oleh OPM, yang sering kali berusaha memecah belah melalui isu suku, agama, dan ras.

    Seruan ini menunjukkan bahwa masyarakat adat Papua semakin bersatu dan menegaskan keinginan mereka untuk hidup dalam kedamaian, dengan fokus pada pembangunan dan kesejahteraan, bukan terjebak dalam teror dan kekerasan yang ditimbulkan oleh kelompok separatis. (Red-033)