BOGOR, Cakrayudha-hankam.com – Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap kasus keracunan massal yang kini telah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa. Inspeksi telah dilakukan di SPPG Bosowa Bina Insani, yang awalnya merupakan proyek percontohan untuk SPPG yang dibangun di kantin sekolah. Kantin ini dipilih karena memiliki fasilitas yang luas dan bersih, serta menawarkan layanan pengiriman yang mudah bagi siswa.
Sebelumnya, sebanyak 223 siswa mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG di Kota Bogor, Jawa Barat. Makanan MBG tersebut disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di SPPG Bosowa Bina Insani. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa keracunan disebabkan oleh kontaminasi bakteri Salmonella dan E. coli.
Ini bukanlah kasus pertama keracunan akibat makanan MBG. Sebelumnya, pada 21 April 2023, 165 pelajar juga mengalami keracunan setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis di Cianjur.
Siswa dari dua sekolah yang terlibat dalam program Makan Bergizi (MBG), yaitu Madrasah Aliyah Negeri 1 Cianjur dan SMP PGRI 1 Cianjur, mengalami gejala keracunan. Di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Kamis (1/05/2025), sekitar 400 pelajar juga mengalami keracunan setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis. Dari jumlah tersebut, dua puluh lima korban memerlukan perawatan di beberapa fasilitas kesehatan, sementara yang lainnya dapat menjalani perawatan mandiri karena gejala yang mereka alami tergolong ringan.
Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis di Kota dan Kabupaten Jayapura, Papua, telah dihentikan sementara. Penghentian ini dilakukan oleh Badan Gizi Nasional karena dapur milik yayasan penyalur MBG belum memenuhi standar yang ditetapkan. Selain itu, harga paket MBG di Papua berbeda dengan harga di Jawa, yang berkisar Rp 15 ribu.
Di Papua, harga MBG telah mencapai Rp40 ribu. Oleh karena itu, BGN berharap agar pihak yayasan segera melakukan perbaikan dan berhasil dalam menjalankan program MBG di wilayah tersebut.(Red-033)

