Begini Cara TNI Lumpuhkan 18 Anggota OPM di Papua

    0
    153

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Cakrayudha-hankam.com – Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengumumkan bahwa mereka telah berhasil melumpuhkan 18 anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) dalam sebuah operasi militer yang dilaksanakan di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Rabu, 14 Mei 2025. Operasi ini dilakukan oleh Satuan Tugas (Satgas) Habema TNI dari pukul 04.00 hingga 05.00 WIT, dengan fokus pada lima kampung: Titigi, Ndugusiga, Jaindapa, Sugapa Lama, dan Zanamba.

    Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal Kristomei Sianturi, menyatakan bahwa operasi ini dilaksanakan sebagai langkah untuk melindungi masyarakat Papua dari ancaman kelompok bersenjata.

    “TNI hadir bukan untuk menakut-nakuti rakyat, melainkan untuk melindungi mereka dari kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oleh kelompok bersenjata. Operasi ini dilakukan dengan pendekatan yang terukur, profesional, dan mengutamakan keselamatan warga sipil. Kami tidak akan membiarkan masyarakat Papua hidup dalam ketakutan di tanah kelahiran mereka,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Kamis, 15 Mei 2025.

    TNI menginformasikan bahwa operasi gabungan berhasil membersihkan wilayah Sugapa Lama dan Kampung Bambu Kuning dari kelompok bersenjata yang dipimpin oleh Daniel Aibon Kogoya, Undius Kogoya, dan Josua Waker. Dalam operasi tersebut, sejumlah barang bukti berhasil diamankan, termasuk senjata AK-47, senjata rakitan, amunisi, busur panah, bendera Bintang Kejora, dan alat komunikasi. Semua personel TNI dilaporkan dalam keadaan aman dan lengkap.

    Operasi ini dilakukan sebagai respons terhadap tindakan kelompok separatis yang diduga memanipulasi kedatangan TNI, yang sebenarnya bertujuan untuk memberikan layanan kesehatan, pendidikan, dan mendukung pembangunan infrastruktur jalan menuju Hitadipa. TNI menuduh OPM menggunakan warga sipil sebagai tameng dan menyebarkan narasi yang menyesatkan, yang menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat.

    Kepala Suku Kampung Sugapa, Melianus Wandegau, mengungkapkan bahwa masyarakat telah terpengaruh oleh propaganda kelompok separatis. “Mereka (OPM) menjanjikan kesejahteraan kepada kami, tetapi kenyataannya kami hanya dijadikan alat dan perisai dalam menghadapi serangan. Warga digunakan sebagai tameng untuk melawan TNI,” katanya.

    Di sisi lain, OPM menuduh bahwa beberapa anggotanya tewas dan terluka akibat ledakan bom yang mereka klaim dipasang oleh militer Indonesia pada jenazah rekan mereka di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua Tengah.

    “Telah terjadi kontak senjata antara pasukan TPNPB dan militer pemerintah Indonesia di Distrik Hitadipa pada hari Selasa, 13 Mei 2025, sekitar pukul 05.00 pagi. Insiden ini mengakibatkan seorang anggota TPNPB gugur di medan perang, dan jasadnya dipasang ranjau bom oleh aparat militer pemerintah Indonesia,” kata juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, dalam siaran pers pada Kamis, (15/05/2025).

    Sebby mengungkapkan bahwa bom meledak saat rekan-rekan korban berusaha mengevakuasi jenazah. “Setelah mendengar bahwa anggota TPNPB gugur, pasukan TPNPB segera melakukan evakuasi. Namun, saat proses evakuasi berlangsung, ranjau bom yang dipasang meledak, mengakibatkan dua anggota TPNPB tewas dan dua lainnya terluka akibat serpihan bom di Intan Jaya,” jelasnya.

    Kejadian tersebut mengakibatkan sejumlah anggota OPM kehilangan nyawa, termasuk Gus Kogoya, Notopinus Lawiya, dan Kanis Kogoya. Sementara itu, Tinus Wonda dan Dnu-Dnu Mirip mengalami luka-luka. “Saat ini, mereka yang terluka sedang dirawat di markas TPNPB,” tambah Sebby.

    TPNPB juga menuduh aparat melakukan penembakan brutal terhadap warga sipil di beberapa desa sebelum terjadinya baku tembak. Insiden ini dilaporkan terjadi sekitar pukul 04.00 dini hari di wilayah Titigi, Ndugusiga, Jaindapa, Sugapa Lama, dan Zanamba. Menurut OPM, serangan tersebut dilakukan saat warga masih terlelap tidur.

    Sebby Sambom mengungkapkan bahwa salah satu korban dalam insiden tersebut adalah Junite Zanambani, yang mengalami luka tembak di lengan. Sementara itu, anaknya, Minus Yegeseni, menderita luka tembak di telinga. “Di sisi lain, Nopen Wandagau terkena tembakan di tangan, dan ada satu orang lainnya yang juga menjadi korban penembakan. Semua korban telah dievakuasi ke sebuah rumah Klasis di Hitadipa,” tambahnya.

    Tempo berusaha mengonfirmasi dengan Kristomei mengenai penggunaan taktik ranjau atau bahan peledak yang diletakkan di sekitar jenazah, serta insiden penembakan yang melibatkan warga sipil. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan yang diterima. (Red-033)