Damai di Lembah Nduga

    0
    93

    Ketika Seragam Loreng Bersujud dalam Ibadah Jumat Agung

     

    NDUGA, Cakrayudha-hankam.com – Di balik perbukitan yang tenang dan keindahan alam Papua, Jumat Agung (18/04/2025) di Kampung Mumugu menjadi momen yang menghangatkan hati. Prajurit Satgas Yonif 733/Masariku Koops Habema berkumpul dalam ibadah kudus di Gereja Kuasi Paroki Santo Damian, Distrik Krepkuri, duduk bersimpuh bersama umat.

    Suasana hening tanpa suara derap sepatu tempur, hanya terdengar senandung doa dan kisah sengsara Kristus yang menyentuh jiwa. Para prajurit yang mengenakan seragam loreng larut dalam khidmat, sejajar dengan warga yang mengenakan pakaian ibadah, bersatu dalam merenungkan kasih dan pengorbanan yang melampaui batas agama, profesi, dan latar belakang.

    “Kehadiran TNI hari ini bukan sebagai penjaga bersenjata, melainkan sebagai saudara seiman dan sahabat dalam doa. Ini benar-benar menguatkan kami,” ungkap sang Pastor dengan mata berkaca-kaca, menyambut para prajurit dengan pelukan hangat dan penuh rasa syukur.

    Masyarakat Kampung Mumugu menyambut momen ini dengan penuh antusiasme dan haru. Banyak di antara mereka yang mengaku belum pernah melihat prajurit TNI berbaur sepenuhnya dalam ibadah sakral seperti ini. Kebersamaan yang langka ini terasa sangat tulus.

    Lettu Inf Arief Nugroho, salah satu perwira yang hadir, menyatakan bahwa momen ini merupakan bagian dari pendekatan kemanusiaan TNI di Papua.

    “Kami hadir bukan hanya untuk menjaga, tetapi juga untuk merasakan apa yang dialami saudara-saudara kami di sini. Jumat Agung adalah waktu refleksi universal tentang cinta dan pengorbanan, dan kami ingin ikut merasakannya,” ujarnya dengan lembut.

    Dari Markas Koops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto memberikan apresiasi tinggi atas kehadiran prajuritnya dalam ibadah tersebut. Ia menekankan bahwa TNI tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga dengan hati yang terbuka untuk membangun jembatan kemanusiaan dan kepercayaan.

    Kehadiran TNI di Papua mencerminkan esensi integrasi dengan masyarakat, merayakan nilai-nilai luhur yang menyatukan kita sebagai satu bangsa. “Semoga Jumat Agung ini membawa kedamaian, tidak hanya di Nduga, tetapi juga di hati kita semua,” ungkapnya kepada media pada Sabtu (19/04/2025).

    Di tengah kabut tipis dan keheningan alam Papua, ibadah Jumat Agung bukan sekadar ritual, melainkan simbol yang kuat bahwa di tengah perbedaan, terdapat ruang yang luas untuk persaudaraan. Ini menunjukkan bahwa loreng dan liturgi dapat berdampingan, serta bahwa kedamaian bukanlah sebuah utopia, melainkan sesuatu yang dapat dimulai dari langkah kecil: saling hadir, saling menghargai, dan saling mendoakan.

    Sumber:
    (Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)