Usai Nyatakan Dukung Ganjar, Purnawirawan TNI AU Sebut Pecatan TNI Tak Layak Presiden: Mana Nalarnya?

    0
    97

    Medan,(Cakrayudha-hankam.com) – Para purnawirawan TNI terbagi sejumlah kubu paslon di Pilpres. Mereka lebuh banyak berada di barisan Prabowo dan Ganjar.

    Sementara di kubu Ganjar-Mahfud, sejumlah Purnawirawan TNI AU menyatakan dukungan. Mereka menyatakan mendukung paslon nomor urut 3 Ganjar-Mahfud.

    Salah satu purnawirawan TNI AU yakni Agus Supriatna. Mantan Kepala Staf TNI AU yang menjadi kini menjadi Pembina Elang Indonesia Maju menyatakan, Ganjar-Mahfud dipilih karena dinilai mempunyai rekam jejak yang paling baik di antara kandidat lainnya.

    “Dari kelebihan itu, yang paling banyak kelebihannya itu Bapak Ganjar dan Pak Mahfud, di situlah kita semua ini memilih Bapak Ganjar-Mahfud,” kata Agus di Kuningan, Jakarta, Rabu (7/2/2024).

    Agus menuturkan, kelompoknya memilih untuk menyatakan dukungan setelah melihat beragam persoalan, mulai dari pelanggaran etik Mahkamah Konstitusi dan Komisi Pemilihan Umum hingga pembagian bantuan sosial yang dianggap tidak etis.

    “Di sinilah akhirnya kita-kita ini berkumpul berdiskusi menganalisa permasalahan ini, kita bentuklah mendeklarasikan ini,” ujar dia.

    Sementara itu, eks Wakil KSAU sekaligus Ketua Umum Elang Indonesia Maju, Dede Nursyamsi, menyatakan, seorang pecatan tentara tidak layak menjadi presiden.

    Ia mengingatkan, di dunia militer, seorang letnan kolonel atau kolonel yang dipecat pun bakal diperlakukan dengan tidak hormat.

    “Kalau kita di kesatuan, kalau letkol saja kolonel dipecat dari TNI, itu bajunya itu dirobek, dibuka tuh, brek gitu, kancingnya tuh sampai bredel,” kata Dede.

    Oleh sebab itu, ia tidak habis pikir apabila seorang pecatan tentara menjadi presiden.
    Pasalnya, presiden tersebut nantinya akan melantik para perwira TNI dan Polri yang baru lulus dari akademi.

    “Bisa terbayangkan, Bapak-bapak ini semua alumni dari Akademi TNI, dilantik oleh presiden, terus kita lihat dengan sikap sempurna gitu, ya presidennya itu pernah dipecat, mana nalarnya?” kata Dede.

    Ketua Tim Pemenangan Nasional Ganjar-Mahfud, Arsjad Rasjid, menilai dukungan dari Elang Indonesia Maju sebagai dukungan moral menjelang hari pemungutan suara yang tinggal satu pekan.

    “Yang kami dapatkan pada hari ini adalah suatu energi baru lagi, suatu energi booster yang saya katakan untuk Mas Ganjar dan Pak Mahfud. Kami berterima kasih atas keberanian dan juga keteguhan daripada ibu bapak sekalian dari purnawirawan TNI AU,” kata Arsjad.

    Ganjar Sindir Purnawirawan yang Dukung Prabowo

    Calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo menyindir sejumlah purnawirawan jenderal yang dulu memecat Prabowo Subianto dari keanggotaan TNI tapi kini mendukung Prabowo sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

    Awalnya, Ganjar bercerita mengenai pertanyaannya kepada Prabowo terkait kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) pada bebat perdana Pilpres 2024, Desember 2024 lalu.

    “Terkait dengan pelanggaran HAM, kalau Anda nonton debat pertama, sayalah orang yang berani bertanya langsung di depan Pak Prabowo,” kata Ganjar saat berdialog dengan kelompok mahasiswa dan generasi Z di Pontianak Comvention Center, Rabu (31/1/2024).

    Saat itu, Ganjar menagih komitmen Prabowo membentuk pengadilan HAM serta mencari keberadaan aktivis yang hilang atau tempat para aktivis itu dimakamkan bila mereka sudag meninggal dunia.

    Menurut dia, pertanyaan itu diajukan agar mendapat jawaban atas isu pelanggaran HAM dan masalah tersebut tidak selalu menjadi perdebatan ketika pemilu tiba.

    “Apakah sedang menghina beliau? Tidak. Apakah saya sudah mengungkit masa lalu? Tidak. Karena saya ingin memastikan agar perdebatan ini tidak terulang setiap mau pilpres,” kata politikus PDI-P itu.

    Namun, Ganjar menyebutkan bahwa pertanyaan itu dianggap tidak etis oleh sejumlah pendukung Prabowo, termasuk para purnawirawan jenderal yang dulu menyatakan Prabowo bersalah dalam kasus penghilangan aktivis.

    Menurut Ganjar, justru para pensiunan jenderal itu yang tidak etis karena sekarang malah mendukung sosok yang dulu mereka putuskan untuk dipecat dari TNI.

    “Ada beberapa jenderal yang dulu ikut menghukum lalu berkomentar begini, ‘itu tidak etis pertanyaannya’. Saudara yang sangat tidak etis, Saudara dulu yang memutuskan dan Saudara hari ini berada di kubunya dan Anda membalikkan pikiran itu, Saudara yang tidak etis,” kata Ganjar.

    Seperti diketahui, Prabowo dipecat dari TNI oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP) karena dinyatakan terbukti bersalah dalam penculikan aktivis pada akhir pemerintahan Orde Baru.

    Ada sejumlah perwira tinggi TNI di DKP yang kini berbalik mendukung Prabowo pada Pilpres 2024, yakni Susilo Bambang Yudhoyono dan Agum Gumelar.

    Selain itu, Wiranto yang menjabat sebagai panglima ABRI saat Prabowo dipecat kini juga masuk dalam barisan pendukung eks komandan jenderal Kopassus itu.(Red)