Tragedi di Rumah Tuhan

    0
    80

    OPM Egianus Kogoya Tembak Mati Pekerja Gereja di Wamena

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Dalam suasana damai yang menyelimuti pembangunan sebuah rumah ibadah, harapan warga tiba-tiba berubah menjadi duka. Kelompok bersenjata dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali melancarkan teror. Kali ini, tindakan keji tersebut dilakukan oleh kelompok yang dipimpin oleh Egianus Kogoya, yang menembaki warga sipil yang sedang membangun Gereja GKI Imanuel Air Garam di Distrik Asotipo, Kabupaten Jayawijaya, pada Rabu (4/6/2025).

    Akibat peristiwa ini, dua pekerja sipil kehilangan nyawa, meninggalkan trauma mendalam di hati masyarakat yang berusaha membangun rumah Tuhan sebagai simbol perdamaian dan persatuan.

    “Ini bukan sekadar serangan terhadap individu, tetapi juga merupakan penghinaan terhadap tempat suci. Gereja seharusnya menjadi tempat mencari kedamaian, bukan arena kekerasan,” ungkap Pendeta Eduard Su, Ketua Klasis Baliem Yalimo, dengan nada penuh kesedihan.

    Peristiwa ini segera mendapatkan reaksi keras dari para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah. Mereka menilai tindakan OPM tersebut sudah tidak dapat diterima lagi, karena telah melanggar batas-batas kemanusiaan dan norma-norma keagamaan.

    “Kami hanyalah masyarakat biasa yang menginginkan kehidupan yang damai. Kami tidak ingin menjadi korban dari konflik yang bukan milik kami,” kata Markus Murib, seorang warga yang selamat dari penembakan.

    Pemerintah Kabupaten Jayawijaya memberikan respons tegas terhadap insiden ini. Wakil Bupati Ronny Elopere menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk nyata terorisme dan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai agama serta kemanusiaan.

    “Kami tidak akan tinggal diam. Ini bukanlah perjuangan, melainkan pembunuhan. Kami akan bekerja sama dengan TNI-Polri untuk mengusut tuntas para pelaku,” tegasnya.

    Saat ini, masyarakat hidup dalam ketakutan. Banyak yang khawatir bahwa kelompok separatis akan melancarkan serangan serupa. Namun, seruan untuk tidak menyerah dan tetap bersatu terus bergema dari para tokoh masyarakat.

    “Sudah cukup penderitaan yang mereka timbulkan. Saatnya kita bersatu, menolak kekerasan, dan berdiri teguh untuk perdamaian,” ungkap Pendeta Eduard.

    Peristiwa ini semakin memperpanjang daftar kekejaman yang dilakukan oleh OPM terhadap masyarakat sipil. Namun, tragedi ini juga memicu semangat masyarakat Papua untuk melawan ketakutan dengan keberanian dan mengandalkan iman mereka.

    Catatan Redaksi:
    Kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Rumah ibadah merupakan simbol perdamaian; menodainya adalah tindakan keji yang melukai seluruh umat manusia. (Red-033)