Tangis Mama Papua di Tengah Perang

    0
    60

    OPM Jadikan Perempuan Sebagai Tameng Hidup, Dugaan Kekerasan Seksual Mengemuka

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Isu kemanusiaan kembali mencuat di Papua. Kelompok separatis bersenjata, Organisasi Papua Merdeka (OPM), tidak hanya menggunakan anak-anak sebagai tameng dalam konflik bersenjata, tetapi kini dilaporkan juga memanfaatkan mama-mama Papua—sebutan hormat bagi perempuan asli Papua—sebagai perisai manusia dalam aksi mereka. Laporan ini muncul pada Selasa, 17 Juni 2025.

    Lebih mengkhawatirkan, terdapat dugaan kekerasan seksual yang dialami oleh sebagian mama-mama tersebut saat berada di bawah kendali OPM.

    Pengakuan Mengerikan dari Korban Selamat
    Salah satu tokoh perempuan Papua, Maria Yigibalom, dengan suara bergetar menyampaikan keprihatinannya terhadap tragedi ini. “Ini bukan hanya pelanggaran hak perempuan. Ini adalah pelecehan terhadap martabat manusia Papua. Mama-mama itu tidak terlibat dalam konflik; mereka hanya ingin hidup damai,” ujarnya dengan penuh kemarahan.

    Maria mengungkapkan bahwa beberapa korban selamat melaporkan telah mengalami kekerasan seksual, mulai dari pelecehan hingga pemaksaan hubungan intim oleh anggota kelompok bersenjata. “Ini sangat serius. Lembaga perlindungan perempuan dan anak harus segera mengambil tindakan. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.

    Pendeta Elisa Wetipo, seorang tokoh gereja yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan di daerah pegunungan, mengecam tindakan tersebut sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur budaya dan agama Papua. “Perempuan dan anak adalah sumber kehidupan dalam budaya Papua. Menggunakan mereka sebagai tameng, apalagi menyakiti mereka secara seksual, adalah penghinaan terhadap Tuhan dan leluhur,” ujarnya dengan tegas.

    Senada dengan itu, Bapak Melkias Wenda, seorang tokoh adat dari Lanny Jaya, dengan tegas menolak segala bentuk pembenaran atas kekerasan terhadap warga sipil, terutama perempuan. “Jika perjuanganmu hanya membuat para ibu menangis dan anak-anak mengalami trauma, maka itu bukanlah perjuangan. Itu adalah kejahatan yang harus dilawan,” ujarnya dengan tegas.

    Seruan untuk Keadilan dan Perlindungan Korban
    Dugaan kekerasan seksual ini segera menarik perhatian lembaga kemanusiaan dan organisasi perlindungan perempuan. Mereka mendesak agar para korban segera mendapatkan perlindungan hukum, pendampingan psikologis, serta tempat tinggal yang aman.

    Peristiwa ini menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh OPM, dan mendorong masyarakat Papua, khususnya dari kalangan akar rumput, untuk semakin vokal menolak kekerasan bersenjata di tanah mereka.

    Catatan Redaksi:
    Perempuan Papua bukanlah alat untuk berperang. Mereka adalah sumber kehidupan, penjaga budaya, dan pelindung generasi. Ketika mereka menjadi korban atas nama ideologi, yang dipertaruhkan bukan hanya nyawa, tetapi juga masa depan seluruh Tanah Papua. (Red-033)