Selidik Nama Pegi Setiawan dalam Daftar 5 Anak Sunjaya Purwadi Sastra Eks Bupati Cirebon di Wiki

    0
    133

    Cirebon,(Cakrayudha-hankam.com) – Selidik nama Pegi Setiawan dalam daftar 5 anak anak Sunjaya Purwadi Sastra, eks Bupati Cirebon yang muncul di laman Wikipedia.

    Seperti diketahui, jagat maya dihebohkan dengan munculnya nama Pegi Setiawan di laman Wikipedia tentang Sunjaya Purwadi Sastra.

    Sunjaya Purwadi Sastra adalah eks Bupati Cirebon yang pernah menjabat 2 periode dari tahun 2014 hingga tahun 2019.

    Keluarga Sunjaya beberapa waktu terakhir terseret-seret dalam kasus pembunuhan Vina Cirebon, hingga membuat istrinya Wahyu Tjiptaningsih beberapa kali membuat klarifikasi.

    Wahyu Tjiptaningsih adalah Wakil Bupati Cirebon tahun 2019-2024. Ia naik sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) setelah suaminya ditangkap KPK.

    Lantas, benarkah keluarga Sunjaya Purwadi Sastra memiliki 5 anak dan salah satunya bernama Pegi Setiawan?

    Selidik Nama Pegi Setiawan

    TribunBengkulu.com mencoba menelusuri munculnya namanya Pegi Setiawan di laman Wikipedia tentang Sunjaya Purwadi Sastra.

    Untuk diketahui, wikipedia adalah ensiklopedia daring yang merupakan sebuah wiki. Artinya siapa pun dapat menyunting artikel yang tidak dilindungi.

    Jika membuka riwayat penyuntingan, nama Pegi Setiawan muncul pertama kali pada revisi per 26 Mei 2024 pukul 23.00 WIB.

    Suntingan tersebut ditampilkan atas nama pengguna Kusuma Wira Diningrat melalui suntingan perangkat seluler.

    Dari suntingan tersebut, lantas laman Wikipedia tentang Sunjaya Purwadi Sastra berubah menampilkan 5 nama anak.

    Daftar 5 nama anak tersebut yakni, Satria Robi Saputra, Sela Syahvira Amalia, Resyah Prima Hanjaya, Ramadani Syahputra dan Pegi Setiawan.
    Suntingan tersebut ternyata diubah lagi pada 27 Mei 2024 pukul 06.54 WIB dengan nama pengguna 114.122.79.123 melalui peramban seluler.

    Bagian yang disunting adalah nama Pegi Setiawan yang ditambahkan angka 2 di tengah namanya menjadi Pegi 2 Setiawan.

    Saat itu, munculnya nama Pegi Setiawan telah membuat heboh jagat maya.

    Topik Sunjaya Purwadi Sastra muncul di laman Google Trend dalam daftar 10 tren penelusuran harian pada tanggal 27 Mei 2024.

    Topik Sunjaya Purwadi Sastra juga bahkan menjadi salah satu penelusuran utama yang paling banyak dicari di berbagai platform media sosial.

    Klarifikasi Keluarga Sunjaya Purwadi Sastra

    Setelah muncul narasi tersebut, sang istri Wahyu Tjiptaningsi langsung membantah bahwa Pegi Setiawan adalah anaknya.

    Wahyu memastikan, bahwa informasi yang sempat muncul di laman Wikipedia tersebut tidak benar.

    Sunjaya Purwadi Sastra dan Wahyu Tjiptaningsih ternyata hanya memiliki 4 orang anak, dan tidak ada yang bernama Pegi Setiawan.

    Dugaannya, ada pihak tidak bertanggungjawab yang mengedit laman Wikipedia beberapa waktu terakhir dan mencantumkan nama Pegi Setiawan.

    Tak hanya Wahyu, anaknya bernama Ramadhani Sastra juga membantah tuduhan itu.

    Dia mengatakan, saat peristiwa itu, Sabtu 27 Agustus 2016 silam, Ramadhani baru berusia 11 tahun.

    Tidak kurang lengkap, bantahan juga disampaikan Satria Robi Saputra.

    Dia saat ini menjadi kepala desa di salah satu daerah di Cirebon juga membantah semua tuduhan itu.

    Lalu, siapa saja anak-anak Sunjaya dan Wahyu Tjiptaningsih.

    Jika berdasarkan narasi tentang nama yang di medsos, tidak ada satupun yang mirip dengan nama anak-anak Sunjaya.

    Termasuk tuduhan terbaru, munculnya nama Pegi Setiawan yang disebut merupakan salah satu dari 5 anak Sunjaya Purwadi Sastra.

    Sunjaya menikah dengan Wahyu Tjiptaningsih, yang menjabat Wakil Bupati Cirebon 2021-17 Mei 2024.

    Sunjaya memiliki 4 orang anak, yakni Satria Robi Saputra, Sela Syahvira Amalia, Resyah Prima Hanjaya, dan Ramadani Syahputra.

    Sementara itu, sebelumnya Pemerintah Desa Banjarwangunan, Kecamatan Mundu, Cirebon telah mengantongi 25 nama yang mempunyai kesamaan dengan nama para pelaku pembunuhan Vina.

    Diketahui, Pegi atau Egi, Andi, dan Dani beralamat Desa Banjarwangunan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.

    Tiga orang ini awalnya adalah DPO kasus Vina Cirebon.

    Namun, terbaru DPO hanya ada satu yakni Pegi Setiawan alias Perong yang sudah ditangkap polisi di Bandung, Selasa (21/5/2024) lalu.

    Polda Jawa Barat mengeluarkan pernyataan terbaru, bahwa tidak ada DPO bernama Dani dan Andi, Minggu (26/5/2024).

    Nama Andi dan Dani itu adalah fiktif lantaran pelaku lainnya salah sebut.

    Inilah sosok Devi Karmawan (27) mayat pria yang ditemukan membusuk di dalam toren di Pondok Aren, Tangerang Selatan.

    Devi ditemukan tetangganya Sutrisno (46) di rumahnya, pada Senin (27/5/2024).

    Diketahui, Devi sempat dinyatakan menghilang selama 2 hari.

    Untuk memastikan identitas mayat, keluarga korban menyebut ada tato tulisan ‘Devoy’ di tubuh Devi, letaknya di punggung.

    5.7l Emblem On eBay – Free Shipping On Many Items
    www.ebay.com

    Penemuan mayat ini bermula pada Minggu (26/5/2024) saat istri Sutrisno mengeluhkan soal airnya yang terasa bau dan tampak keruh.

    Istri Sutrisno meminta suaminya untuk menguras toren. Tetapi, dia menolak karena baru beberapa waktu lalu menguras toren.

    Di lain hari, yakni Senin (27/5/2024), aroma air di rumah Sutrino mulai sangat tidak sedap dan terasa licin.

    Oleh karena itu, Sutrino dan mertuanya, Abu Suud (60), mengecek toren yang ada di belakang rumah dengan melewati kediaman tetangga.
    Pemilik rumah bernama Sutrisno (46) saat menunjukkan posisi toren yang ada di belakang rumahnya. Di dalam toren tersebut, ditemukan mayat pria pada Senin (27/5/2024). (KOMPAS.com/BAHARUDIN AL FARISI)

    Mengingat usia Abu yang telah senja, Sutrisno lebih dulu mengecek toren dengan memutar penutup penampungan air itu sebanyak dua sampai tiga kali putaran.

    “Sebelum buka, ditutup toren itu ada lalat hijau, cuma ada tiga atau berapa (lalat). Saya buka, dua sampai tiga putaran.

    Pas dibuka, ‘wah, ini mah bukan bangkai yang saya curigai (cicak)’,” ujar Sutrisno.

    Sebab, sepenglihatan Sutrino, bangkai yang ia kira binatang cicak ini berukuran sebesar bantal tidur.

    “Langsung ngomong ke bapak.

    ‘Pak, itu bukan bangkai cicak seperti yang saya curigai, sebesar bantal’. Terus, bapak saya ke atas. Dibuka tuh sama bapak saya, ‘wah, ini bangkai orang’,” tutur dia.

    “Kaget saya langsung. ‘Ini di sini (punggung) ada tato, terus ada kelihatan kuping sama rambut’, ‘yang benar, Pak?’, ‘iya ini bangkai orang’.

    Terus saya teriak, saya suruh turun,” imbuh Sutrisno melanjutkan.

    Penemuan mayat ini langsung Sutrino laporkan kepada pemangku wilayah setempat dan diteruskan kepada Polsek Pondok Aren.

    Pakai Air untuk Mandi dan Gosok Gigi
    Pemilik rumah bernama Sutrisno (46) mengungkapkan, dia dan keluarga sempat memakai air yang berasal dari toren rumahnya untuk kebutuhan sehari-hari.

    Ia tak mengetahui saat itu ada mayat pria di dalam toren air rumahnya.

    “Sempat pakai mandi, gosok gigi, wudhu juga,” ujar Sutrisno saat ditemui di tempat kejadian perkara (TKP), Selasa (28/5/2024).

    Setelah mengetahui di dalam toren terdapat jasad pria, Sutrino mengaku tidak bisa tidur semalaman. “Sampai enggak bisa tidur saya,” kata Sutrisno.

    Penemuan mayat ini bermula pada Minggu (26/5/2024) saat istri Sutrisno mengeluhkan soal airnya yang bau dan keruh. Istri Sutrisno meminta suaminya untuk menguras toren.

    Namun, Sutrisno menolak karena toren itu baru dikuras beberapa waktu lalu. Keesokan harinya, Senin (27/5/2024), aroma air di rumah Sutrino semakin berbau dan terasa licin.

    Oleh karena itu, Sutrisno dan mertuanya, Abu Suud (60), mengecek toren yang ada di belakang rumah dengan melewati kediaman tetangga.

    Mengingat usia Abu yang telah senja, Sutrisno lebih dulu mengecek toren dengan memutar penutup penampun air itu sebanyak dua sampai tiga kali putaran.

    “Sebelum buka, ditutup toren itu ada lalat hijau, cuma ada tiga atau berapa (lalat). Saya buka, dua sampai tiga putaran.

    Pas dibuka, ‘wah, ini mah bukan bangkai yang saya curigai (cicak)’,” ujar Sutrisno.

    Sebab, sepenglihatan Sutrino, bangkai yang ia kira binatang cicak ini berukuran sebesar bantal tidur.

    “Langsung ngomong ke bapak. ‘Pak, itu bukan bangkai cicak seperti yang saya curigai, sebesar bantal’.

    Terus, bapak saya ke atas. Dibuka tuh sama bapak saya, ‘wah, ini bangkai orang’,” tutur dia.

    “Kaget saya langsung. ‘Ini di sini (punggung) ada tato, terus ada kelihatan kuping sama rambut’, ‘yang benar pak?’, ‘iya ini bangkai orang’. Terus saya teriak, saya suruh turun,” imbuh Sutrisno.

    Penemuan mayat ini langsung dilaporkan kepada pemangku wilayah setempat dan diteruskan kepada Polsek Pondok Aren.

    Polisi bakal cek CCTV
    Kapolsek Pondok Aren Kompol Bambang Askar sebelumnya mengatakan pihaknya masih mencari tahu cara korban masuk ke dalam toren tersebut. Pihak kepolisian, lanjut dia, akan menyisir CCTV untuk mencari tahu aktivitas korban sebelum ditemukan tewas membusuk.

    “Kemungkinan orang itu masuk sendiri, kemungkinan. Kan di dalam itu ada pelampung yang otomatis itu. Kami akan tindak lanjuti, kalau kita tahu hasil autopsi, nanti kita akan simpulkan siapa dia, kapan matinya berapa hari kenapa orang itu ada di situ,” kata dia.

    “Pasti itu sebagai sarana salah satu upaya penyelidikan kami sesuai dengan pasal 184 KUHAP kita akan mencari minimal dua alat bukti dari keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk. Petunjuk ini adalah salah satunya hasil record CCTV di sekitar situ,” tandasnya.(Red)