Saya Sampai Gemetar, Cerita Suroto Pertama Kali Tolong Vina Cirebon,Sebut Adegan di Film Salah

    0
    83

    Cirebon,(Cakrayudha-hankam.com) – Insiden pembunuhan Vina dan Eky di jembatan flyover Talun, Cirebon pada, 27 Agustus 2016 silam pertama kali diketahui oleh pria bernama Suroto.

    Suroto, petugas keamanan atau siskamling di desa sekitar jembatan Talun, mengaku sebagai sosok yang pertama kali menolong Vina dan Eky.

    Suroto berani bersaksi jika dirinya masih ingat jelas kejadian di malam hari tersebut.

    Saat itu, Suroto sempat gemetaran tak menyangka melihat kondisi Vina yang memprihatinkan hingga membuatnya tergerak untuk menolong.

    Adapun kejadian itu diketahuinya berawal ketika sedang patroli di sekitaran TKP.

    Dirinya menemukan jasad duo sejoli tersebut pada malam hari.

    “Hari itu saya patroli keliling karena saat itu rawan begal di jam 10-11 malam. Jam 10 saya lewat, mutar balik ke flyover sini, saya melihat korban-korban tergeletak,” cerita Suroto saat ditemui iNews di jembatan flyover Talun, seperti dikutip media ini dari tayangan kanal YouTube Official iNews, Rabu, (05/06/2024).

    Dia pun lalu menunjukkan posisi tubuh Eky dan Vina yang ketika itu tergeletak di tengah pembatas jalan flyover Talun.

    Suroto berani bersaksi jika dirinya masih ingat jelas kejadian di malam hari tersebut.

    “Jam 10 malam. Bisa dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat, saya saksi, masih ingat betul,” ungkap Suroto.

    “Ini asli dan tidak ada saya rekayasa, posisi ada disini bukan disana(trotoar),” tegasnya.

    Ketika itu, dirinya pertama kali menolong Eky. Ia pun mengungkapkan kondisi kekasih Vina itu yang sudah tidak bernyawa.

    “Pertama saya nolong si laki (Eky), nggak tahu namanya waktu itu. Posisinya masih pakai helm. Saya tanya ‘dek, dek, dek’, dia nggak nyahut. Tebakan saya dia sudah mati, karena darahnya banyak. Waktu itu hujan, dan darahnya itu mengalir ngikutin air,” ungkap Suroto.

    Suroton menyebut Eky saat itu, mengenakan jaket bergambar logo klub motor XTC berwarna biru putih.

    “Pakai jaket, kalau nggak salah jaket XTC warna biru putih,” terangnya.

    “Karena saya pikir Eky sudah meninggal, saya lalu fokus menolong si perempuan (Vina), waktu itu juga nggak tahu namanya siapa,” ujar Suroto.

    Menurutnya, posisi Vina ketika itu terlentang dan masih dalam kondisi sadar. Vina bahkan pun sempat merintih meminta pertolongan kepada Suroto.

    “Dia minta tolong, ‘tolong, tolong’, saya tolonglah si perempuan. Aku bilang ‘sabar dek, lagi manggil mobil’,” ucapnya kala itu.

    “Waktu dia terlentang, kepalanya saya angkat, posisi dia itu saya papah kepalanya,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Suroto juga mengungkap kondisi Vina saat itu dimana korban mengalami luka parah di sekujur tubuhnya.

    “Kondisi Vina parah juga, kaki luka, kena sobekan besi atau apa, kita juga nggak tahu. Dia luka parah. Tangannya luka parah, wajahnya memar semua. Kaki kiri patah, kepala berdarah juga,” bebernya.

    Selain itu, ia juga melihat tubuh bagian bawah Vina sudah tertutupi jaket XTC sama seperti yang dikenakan Eky.

    “Vina sebelum saya tolong, jaketnya itu sudah menutupi (bagian bawah tubuhnya), jaketnya itu sama (dengan jaket XTC Eky) warna putih biru,” tutur Suroto.

    Ia juga mengaku sempat membetulkan dalaman bagian bawah tubuh Vina karena melorot.

    Tak lama setelah itu, Suroto pun melihat polisi datang di lokasi penemuan tubuh Vina Cirebon dan Eky tersebut.

    “Nggak lama kemudian anggota polisi datang,” ujarnya.

    Suroto juga yang ikut mengantarkan Vina ke rumah sakit, dikatakannya masih bernyawa.

    “Perempuannya masih hidup, masih minta tolong terus sampai rumah sakit, saya dulu sampai gemeter gak tega ‘kok sampai kayak gini yaAllah’,” katanya.

    Melihat kondisi Vina, Suroto sempat curiga jika kematian almarhum bukan karena kecelakaan.

    Pasalnya, saat Suroto mengaku melakukan survey ulang di TKP sehari setelah kejadian.

    “Ga ada benturan besi, karena abis kejadia jam 10 malem itu, saya menemukan korban, paginya saya survey apa bener sih kecelakaan sampai kayak gitu, tapi gak ada sama sekali beretan, tapi diinformasikan polisi kecelakaan laka lantas.

    Hingga kecurigaan Suroto terbukti setelah berselang lama kematian Vina dan Eki disebabkan karena kasus pembunuhan.

    “Mangkanya film-film itu salah semua, gak bener posisi, wilayah di Kecomberan, posisi gak disana, saya berani sumpah demi Allah inilah yang saya tolong pertama, saya dihadirkan ke persidangan dua kali,” paparnya.

    Disisi lain, Suroto mengaku tidak tahu menahu soal kasus pembunuhan Vina yang melibatkan beberapa pelaku bahkan ia tidak mengetahui bahwa korban merupkan anak Briptu Rudiana.

    “Saya fokusnya cuma nolongi aja,” tandasnya.

    Eks Sekjen XTC Bongkar Percakapan Terakhir Eki

    Isi pesan chat terakhir Eky pacar Vina Cirebon dua jam sebelum ditemukan tewas dikuak mantan sekjen XTC Cirebon kota.

    Reno Sukriano selaku eks sekjen XTC tahun 2016 menyebut jika pesan Eky dikirimkan ke anggota geng motor XTC soal keberadaan posisi berada di lokasi TKP pembunuhan.

    Pada tanggal 27 Agustus 2016 malam itu geng motor XTC 04 Sumbar akan melakukan rapat internal di Cipaniis, Kuningan, Jawa Barat.

    Reno mengatakan, menurut keterangan anggota XTC 04 Sumbar, Eky masih menjawab besan tersebut.

    “Eky masih sempat jawab jam 20.00 WIB, ‘baru nyampe GSP’ kawasan di Kota Cirebon, Jalan Majasem,” jelasnya.

    Awalnya rombongan itu masih mencoba menunggu Eky, namun karena lama akhirnya mereka berangkat duluan.

    Kemudian sekitar dua jam setelah mendapat pesan dari Eky, salah satu anggota XTC mendapat kabar dari orangtuanya.

    “Bilang katanya ‘itu ada anak XTC tergeletak di jembatan’,” ungkap Reno Sukriano lagi.

    Teman-teman Eky di XTC 04 Sumbar itu kemudian langsung menuju ke TKP flyover Talun.

    “Kalau nggak salah posisinya sudah dibawa ambulans. Akhirnya mereka ke rumah sakit untuk konfirmasi,” jelasnya lagi.

    Anggota XTC 04 Sumbar itu juga sempat melihat kondisi Eky di rumah sakit.

    “Eky memang sudah posisi muka lebam-lebam gak karuan, gak layak, bahu gak tahu patah atau seperti apa, parah banget,” kata Reno.

    Setelah menunggu hingga beberapa saat, para anggota XTC 04 Sumbar itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang.

    Mereka kemudian mengabarkan bahwa ada salah satu anggota XTC 04 kecelakaan di jalan layang.

    “Sempet berpikir ‘mungkin ada yang nyerang’, tapi akhirnya polisi bilang ini kecelakaan,” tutur dia.

    Menurut Reno, saat itu teman-teman Eky juga tidak mengetahui kejadian yang sesungguhnya, Mereka gak tahu apa yang terjadi sesungguhnya, apakah pembunuhan atau kecelakaan.

    “Hanya satu sampai dua jam sebelum kejadian mereka kontak-kontakan sama Eky, karena Eky sama Vina biasanya,” ungkap Reno lagi.

    Bahkan menurut Reno, ada anggota XTC 04 Sumbar yang sempat bertemu dengan Eky dan Vina sebelum kejadian.

    “Hari Sabtu sore sempet ketemu di kota Eky sama Vina ini,” jelasnya.

    Pengakuan Aep dan Melmel Disebut Berbohong
    Sebelumnya, Pengacara Pegi Setiawan soroti kesaksian Aep dan Melme dalam kasus pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon.

    Diketahui, Aep dan Melmel menguak kesaksian yang mengaku melihat kejadian saat pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon tahun 2016 silam.

    Dalam kesaksiannya, Aep menyakini jika Pegi Setiawan alias Perong DPO yang ditangkap adalah pelaku asli.

    AEP juga mengaku sempat dimintai keterangan oleh Dirkrimum Polda Jawa Barat dan Polres Cirebon untuk memastikan pelaku yang diamankan adalah DPO pembunuhan Vina dan Eki.

    Terkuaknya kasus Vina Cirebon ini juga tak lepas berkat kesaksian Aep kepada ayah korban Eki, Rudiana beberapa hari setelah kejadian.

    Kesaksian Aep itulah akhirnya polisi menangkap delapan pemuda Cirebon, satu di antaranya masih di bawah umur kala itu.

    Menanggapi hal itu, pengacara Pegi Setiawan menduga adanya keterlibatan AEP dan Melmel dalam kasus tersebut.

    “Saya menduga orang-orang yang membuat kesaksian itu jangan-jangan dia pelakunya, itu dugaan, bisa saja dia salah satu pelakunya,” ucap pengacara Pegi Setiawan.

    Misalnya pada saksi Asep, Niko menyebut jika pengakuan mengenal Pegi Setiawan tidaklah benar.

    Pasalnya sejumlah saksi lain termasuk Saka Tatal tak mengenal Pegi Setiawan.

    “Cuma satu yang mengatakan mengenal, ya namanya si Asep tadi itu. Hati-hati karena dalam KUHP 242 pasal 242 itu ancamannya 7 tahun penjara. Kamu jangan main-main si Asep ini pesan buat kamu. Hati-hati sekali dalam memberikan kesaksian.”ujarnya melansir dari Youtube Cumicumi.

    Tak hanya Aep, Niko turut menyoroti pengakuan Melmel. Dimana Melmel mengaku sempat dihubungi

    Pegi melalui telepon beberapa saat setelah kejadian pembunuhan.
    Akan tetapi, Niko meragukan kredibilitas Mel-Mel dan menduga bahwa dia mungkin saja salah satu pelaku dalam kasus ini.

    “Soal itu saya rasa penyesatan dan kemudian hanya mencari sensasi aja. Itu cuma sebatas sebagai petunjuk, tidak bisa dijadikan alat bukti sendiri,” tegasnya.

    Niko pun menambahkan seharusnya diyakinkan betul apakah benar jika nama Pegi itu Pegi Setiawan kliennya.

    “Ada bukti-bukti apa yang bisa ditampilkan seperti itu kan. Ada Samurai katanya, ada Samurai panjang, ada samurai pendek. Tapi sampai hari ini alat bukti itu, barang-barang alat bukti itu semuanya pada gak ada semua bang.” terangnya.

    Selain itu, Niko juga mempertanyakan motif Mel-Mel dalam memberikan kesaksiannya.

    “Dia mau nongol dia mau hilang. Itu haknya dia. Jadi kita saya enggak bisa masuk,” tutup Niko

    Ia menanggapi soal pernyataan terkait alat bukti penetapan Pegi Setiawan yang dinilai lemah.

    Kendati demikian, pengacara Pegi yakin bahwa kliennya akan segera bebas.

    Ia juga menegaskan saat ini sudah mempunyai bukti-bukti yang membebaskan kliennya.

    “Kalau menurut keyakinan kami para lawyer, klien kami pasti bakal bebas karena berdasarkan alibi hasil investigasi, kami sudah mempunyai bukti-bukti untuk membebaskan klien kami nanti,” terangnya.(Red)