Saat Kasih TNI Menembus Kabut Pegunungan Papua

    0
    114

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di balik kabut dingin Pegunungan Papua, kehangatan muncul dari arah yang tak terduga. Pada Rabu (14/5/2025), di pelataran Pos TK Bilogai, kedamaian hadir bukan melalui pidato atau pengamanan bersenjata, melainkan melalui seikat kasih yang dikenal sebagai “SIRIH” (Sikatan Beri Kasih).

    Inisiatif ini diprakarsai oleh prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 500/Sikatan yang dipimpin oleh Letda Inf Robi. Kegiatan ini tampak sederhana, namun menyentuh hati: membagikan nasi bungkus kepada warga Intan Jaya. Namun, maknanya jauh lebih dalam. “SIRIH” bukan sekadar tentang makanan; ia adalah simbol kasih. Ini adalah tangan yang terulur dari prajurit TNI menuju hati rakyat Papua yang tulus, hangat, dan bersahabat.

    Sepuluh personel hadir tidak hanya dengan ransel, tetapi juga dengan senyum dan niat baik. Di tengah keterpencilan dan dinginnya udara pegunungan, mereka hadir sebagai keluarga. Anak-anak tertawa, para ibu bersyukur, dan batas antara seragam dan masyarakat menghilang dalam suasana penuh rasa hormat dan kehangatan.

    Letkol Inf Danang Rahmayanto, S.I.P., M.M., selaku Dansatgas Yonif 500/Sikatan, menjelaskan makna mendalam di balik program ini:
    “SIRIH bagi kami bukan sekadar akronim. Dalam budaya Papua, sirih melambangkan kehormatan dan kasih. Daunnya yang berbentuk hati tumbuh dengan damai tanpa merusak tanaman lain. Harapan kami adalah agar kehadiran TNI di Papua seperti sirih, membawa kebaikan dan kasih, bukan beban atau kekuasaan.”
    Seorang warga, Mama Maria, menggendong anaknya sambil tersenyum haru. Ia menerima nasi bungkus dengan tangan bergetar, bukan hanya karena lapar, tetapi juga karena merasakan cinta. “Terima kasih, TNI. Kami merasa tidak sendiri,” ucapnya pelan, penuh makna.
    Di balik kegiatan ini, “SIRIH” menjadi benih yang ditanam untuk membangun rasa saling percaya. Ia menyirami tanah Papua yang kadang keras dengan empati, sehingga tumbuh persaudaraan yang kokoh.

    Mayjen TNI Lucky Avianto, Pangkoops Habema, menyampaikan apresiasi yang mendalam, menyatakan bahwa ‘SIRIH’ bukan sekadar sebuah program. Ini merupakan manifestasi kehadiran TNI yang peka, mendekat, dan merangkul masyarakat dengan tulus. Harapannya, ini menjadi langkah awal menuju Papua yang damai, sejahtera, dan penuh kasih.

    Di Bilogai pada hari itu, sirih tidak hanya dikunyah sebagai bagian dari tradisi, tetapi juga dihadirkan sebagai simbol: cinta yang mengalir tanpa paksaan, serta kedamaian yang menyapa melalui tangan yang terbuka.

    Authentication:
    (Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)