Rocky Gerung Saran KPK Bikin Konpers Besar, Tanggapi Kasus Gibran yang Terima, Setoran, dari Menteri

    0
    175

    Jakarta,(Cakrayudha-hankam.com) – Pengamat politik, Rocky Gerung, menyarankan agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar konferensi besar untuk memberikan penjelasan bahwa kasus-kasus besar yang belum selesai ditangani untuk segera diselesaikan.

    Kasus itu di antaranya Kasus ‘Kardus Durian’ yang menyeret nama Cak Imin, kasus hilangnya Harun Masiku dan termasuk yang terbaru, kasus dugaan pemberian ‘setoran’ dari menteri ke Gibran Rakabuming Raka tiap Sabtu.

    “Jadi sebaiknya KPK itu bikin aja konferensi besar bahwa masih ada kasus-kasus termasuk (kasus) Gibran yang datang ke saya mengatakan bahwa menteri-menteri yang datang ke dia, lalu saya curigai bahwa itu ada tukar tambah kekuasaan.”

    “Supaya semua hal yang mungkin masih memungkinkan timbulnya hoaks itu diselesaikan,” katanya seperti dikutip media ini dari Youtube Channelnya yang tayang pada Sabtu (7/9/2024).

    Langkah itu perlu dilakukan oleh lembaga antirasuah itu demi menghilangkan ceceran-ceceran isu atau gosip yang beredar di masyarakat.

    Rocky menilai isu miring yang masih merebak itu harus dibersihkan karena dapat mengganggu pemerintahan selanjutnya di era Prabowo Subianto.

    “Semua itu kan harus diselesaikan tuh, supaya KPK di zaman Pak Prabowo betul-betul KPK yang baru. PR-PR (pekerjaan rumah) yang masih jadi bisik-bisik publik itu udah selesai, kan itu dasarnya,” ujarnya.

    Tanggapan KPK
    Juru Bicara KPK Tessa Mahardhika Sugiarto buka suara soal pernyataan Rocky Gerung dalam acara di sebuah stasiun televisi.

    Saat itu, Rocky menyebutkan bahwa mantan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, disebut terima setoran dari menteri.

    Potongan ucapan Rocky itu pun ramai dibicarakan di media sosial X.

    Jubir KPK itu menegaskan, pihaknya bekerja berdasarkan prosedur dan kerangka hukum yang ada.

    “Kami mengimbau dan mempersilakan masyarakat untuk dapat menyampaikan ke KPK, membuat laporan, sehingga apa yang disangkakan bisa jelas nanti ditelusuri dan tidak menjadi fitnah atau hoax kalau sekarang disampaikan,” kata Tessa saat ditemui di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (6/9/2024) seperti dikutip Kompas.com.

    Meski perlu ada pihak yang melaporkan dugaan suatu kasus, KPK tak akan diam saja.

    “Secara prosedur bahan itu bisa dikumpulkan melalui open source, tetapi perlu ada orang yang melaporkan, jadi perlu ada inisial report lah,” kata dia.

    Menurutnya, dengan ada laporan yang masuk, penanganan di KPK pun bisa lebih cepat.

    “Tapi atas dugaan-dugaan tersebut KPK tidak diam saja, tetap mengumpulkan, jadi begitu nanti ada laporan yang masuk tentunya bisa lebih cepat,” pungkas Tessa.

    Dugaan tukar tambah kekuasaan
    Rocky Gerung, merespons kembali soal ucapannya yang belakangan menghebohkan publik.

    Ia menyebut bahwa putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, kerap terima ‘setoran’ dari menteri setiap Sabtu.

    Rocky mencurigai kedatangan rutin menteri lantaran adanya niat untuk tukar tambah kekuasaan.

    Awalnya, Gibran berkunjung ke rumah Rocky Gerung untuk belajar politik.

    Di dalam sebuah percakapan, Rocky mengatakan adakah potensi Gibran didekati atau dibujuk untuk kepentingan politik.

    Gibran mengakui dirinya kerap didatangi menteri-menteri ayahnya setiap Sabtu untuk memberikan uang.

    “Bahwa betul Gibran mengatakan bahwa bolak-balik menteri berkunjung tuh, saya enggak mau kejar langsung tuh menteri siapa, berkunjung demi apa, tetap kecurigaan saya adalah itu dalam rangka pengkondisian,” ujar Rocky Gerung seperti dikutip media ini dari Youtube Channelnya yang tayang pada Sabtu (7/9/2024).

    Pengkondisian itu, kata Rocky, diduga karena para menteri hendak diganti atau di-resuffle oleh ayahnya.

    “Tetap saya punya curiositas untuk tahu tuh kenapa menteri bolak-balik mengunjungi anak presiden, ya mungkin ada soal APBN atau APBD atau bikin proyek, tetapi di dalam kepala saya, begitu ada menteri menghubungi anak presiden, itu artinya di belakang layar ada tukar tambah kekuasaan,” katanya.

    Adanya praktik tukar tambah kekuasaan itu berpotensi terjadinya tindakan korupsi gratifikasi.

    “Kenapa enggak langsung ke presiden aja, kenapa mesti ke Gibran, tp pada waktu itu Gibran kan walikota jadi mungkin ada kerjasama departemen. Tetapi lebih dari sekadar kerjasama, dugaan hipotetik saya, pasti ada tukar tambah kekuasaan di situ yang berakibat pada potensi gratifikasi,” pungkasnya.

    Rocky kritik Gibran koruptor
    Sebelumnya, Rocky Gerung, mengkritik Gibran Rakabuming Raka sebagai seorang koruptor usai menerima uang dari berbagai macam menteri ayahnya, Joko Widodo, setiap Sabtu.

    Hal itu terungkap ketika Rocky menjadi seorang narasumber di acara debat di salah satu stasiun tv swasta pada Selasa (3/9/2024).

    Ia awalnya membantah bahwa kritikan yang selama ini dilontarkan ke Jokowi karena didasari kebencian.

    Ia mengklaim hubungan Jokowi dengan dirinya baik-baik saja.

    Bahkan, putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, datang sendiri ke rumah Rocky untuk meminta dikritik.

    “Gibran ke rumah saya. ‘Om Rocky, saya mau belajar’. ‘Duduk di situ luh, kalau mau belajar tuh’. ‘Kasih saya kritik Om Rocky,” ujar Rocky menirukan percakapannya dengan Gibran seperti dikutip media ini dari acara Rakyat Bersuara di iNews yang tayang pada Selasa (3/9/2024).

    Kepada Gibran, Rocky tidak hanya mengkritiknya, tetapi juga adik mertuanya, Bobby Nasution.

    “Anda belum saya kritik karena belum jadi wakil presiden. Pada waktu itu, dia wali kota (Surakarta), saya kritik,” ujarnya.

    Dalam pertemuan di rumahnya itu, Gibran sempat bercerita bahwa setiap Sabtu, menteri rutin mendatanginya dan memberikan uang.

    Mendengar pengakuan Gibran, Rocky mengkritiknya sebagai seorang koruptor.

    “Setiap Sabtu, berbagai macam menteri datang ke dia, kasih duit supaya Solo…. Saya bilang you koruptor tuh. Saya kasih kritik dia enggak marah,” ujarnya.

    Selain datang untuk minta dikritik, Gibran memilih ke rumah Rocky karena bosan dengan kuliah-kuliah yang diberikan PDI Perjuangan.

    “‘You datang sebagai apa?’ ‘Mendua om, saya juga datang karena saya bosan ikut-ikut di sekolah PDI Perjuangan’,” ujar Rocky menirukan percakapannya dengan Gibran.

    Rocky melanjutkan bahwa dirinya konsisten untuk menjadi seorang kritikus.

    Ia menolak tawaran untuk menjadi pejabat di pemerintahan.

    “Saya memilih menjadi kritikus, orang menawarkan jadi pejabat enggak mau. Saya mau jadi kritikus saja. Jadi saya mau jujur katakan itu. Jadi, tidak semua yang kotor itu tidak berguna,” tegasnya pada awak media mengakhiri perbincangan.(Red)