Prabowo Bentuk Kementerian Haji dan Umrah

0
178

JAKARTA, Cakrayudha-hankam.com – Presiden terpilih Prabowo Subianto berencana membentuk Kementerian Haji dan Umrah sebagai langkah strategis untuk memperkuat penyelenggaraan ibadah suci umat Islam. Rencana ini diharapkan mampu menjamin integritas, kompetensi, serta peningkatan kualitas pelayanan bagi jemaah haji Indonesia.

Wakil Kepala Badan Penyelenggara (BP) Haji, Dahnil Azhar Simanjuntak, menegaskan bahwa fokus utama pembentukan kementerian baru tersebut adalah menghadirkan institusi yang berwibawa, bersih, dan profesional.

“Pak Presiden menginginkan institusi ini wajahnya (menjamin) integritas dan kompetensi,” kata Dahnil di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Sabtu (23/8/2025).

Menurutnya, transformasi dari BP Haji menjadi Kementerian Haji dan Umrah tidak akan mengganggu persiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. “Ini sebenarnya tinggal bedol desa saja,” tambahnya.

Sorotan Kesehatan Jemaah
Belakangan, pelayanan haji mendapat perhatian serius, khususnya setelah adanya teguran dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi terkait aspek kesehatan jemaah. Hal ini mendorong pemerintah memperkuat standar kesehatan agar tidak ada lagi jemaah yang gagal berangkat akibat masalah medis.

“Ke depan kami ingin memunculkan manasik kesehatan, supaya tidak ada lagi kecolongan kalau sebenarnya jemaah itu sakit,” jelas Dahnil.

Untuk mendukung program tersebut, BP Haji bekerja sama dengan Persatuan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi) dalam merancang persiapan manasik kesehatan serta menyesuaikan standar operasional pemeriksaan kesehatan.

“Misalnya bagi penderita jantung, bagaimana treatment yang tepat agar satu tahun sebelum keberangkatan tetap sehat. Itu nanti Perdokhi yang merancang secara medis, kami siapkan mekanismenya,” ujarnya.

Rekomendasi Perdokhi
Ketua Dewan Pembina PP Perdokhi, Muchtaruddin Mansyur, menyampaikan pihaknya telah memberikan 16 poin rekomendasi untuk transformasi kebijakan kesehatan haji. Rekomendasi itu mencakup penambahan vaksin influenza berbasis sel, vaksin pneumonia, serta pemberian imunomodulator asli Indonesia seperti ekstrak Phyllantus Niruri yang dikombinasikan dengan multivitamin.

“Harapannya, dalam setahun ada pembinaan kesehatan agar jemaah tetap istitahah (mampu secara fisik). Minimal dua kali pemeriksaan sebelum keberangkatan,” ungkap Mansyur.

Ia menegaskan pentingnya manasik fisik dan assessment akhir menjelang keberangkatan. “Dengan begitu, di embarkasi tidak ada lagi jemaah yang dinyatakan tidak istitahah,” tambahnya.(Red-033)