Potret Kemiskinan Sudut Barat Jakarta

    0
    63

    Hidup Bertetangga Hanya Dibatasi Triplek

     

    Jakarta,(Cakrayudha-hankam.com) – Hari ini Ibu Kota DKI Jakarta memperingati hari jadinya yang ke-496 tahun. Meski sudah terbilang ‘berumur’, masih banyak permasalahan ibu kota yang harus dibenahi, termasuk soal kemiskinan.

    Betapa tidak, di tengah gedung-gedung pencakar langit, berdiri sebuah permukiman padat penduduk yang hanya terpisahkan oleh selembar triplek. Seperti di kawasan Tambora, sisi barat ibu kota. Eksistensi permukiman padat penduduk tersebut hingga kini masih ada.

    Berdasarkan pantauan media ini mencoba menapaki permukiman tersebut. Menyusuri dari satu gang ke gang lainnya, berdiri rumah warga yang kehidupannya terbilang jauh dari layak. Atap rumah warga saling berhimpitan. Dan terpisahkan oleh selembar triplek.

    Terlihat jalanan yang hanya dilapisi dengan semen seadanya ditambah bau semerbak kotoran bercampur dengan kondisi pengap.

    Memasuki salah satu rumah warga, terasa lebih sesak dari di luar. Terik matahari hanya menyelinap masuk ke dalam sekat-sekat lubang atap. Bangunan dengan tiga lantai yang didominasi dengan kayu dan triplek, bahkan ventilasi udara yang sangat kecil membuat menambah suasana rumah dalam rumah sesak napas.

    Sang penghuni rumah, Miniatun (48) atau biasa disapa Mbak Atun mengakui panasnya kondisi di dalam rumah mungilnya. Lantas, ia mensiasatinya dengan memasang kipas agar keempat buah hatinya tidak ‘kegerahan’.

    Ia bernostalgia. Ingatannya kembali ke beberapa tahun lampau. Saat kondisi di kawasan yang ia huni belum sepadat seperti saat ini.

    “Saya di sini sudah sejak tahun 80’an, dulu kawasan sini masih banyak empang, jalannya juga masih bertanah,” kata dia seperti dikutip media ini, Kamis (22/06/23).

    Di sepanjang gang dekat rumahnya, masih berjejer becak yang siap selama 24 jam untuk mengantar pelanggannya.

    Seiring dengan pergantian tahun, pemukiman rumahnya berubah menjadi padat penduduk yang berdatangan dari berbagai daerah. Singkat cerita, rumahnya salah satu yang terpojokkan dikarenakan bangunan demi bangunan rumah menjulang disekitarnya.

    Meskipun, rumahnya jarang terkena sinar matahari, bukan hal itu yang membuatnya khawatir. Melainkan kebakaran yang memang kerap kali terjadi.

    “Di sini mah sering kali kebakaran, paling garanya-garanya konsleting, gas bocor, gitu-gitu dah pokoknya,” ucap dia.

    “Belum lagi kalau kebakaran gede, kan di sini padat, ramai rumah jadi was-was kalau ada yang kebakaran,” lanjut ceritanya.

    Sebagai kawasan yang dikenal rawan akan kebakaran, bukan hal yang baru baginya. Hanya dengan mempersiapkan beberapa surat-surat penting dan harta benda yang sempat diselamatkan sudah menjadi patokan dia.(Red)