
SURABAYA, (Cakrayudha-hankam.com) – Dalam dunia kesehatan, inovasi dan penelitian adalah nafas penggerak harapan peningkatan kualitas hidup, serta penunjang ketahanan kesehatan Nasional. Sayangnya, di negara kita, inovasi di sektor ini terkesan kurang mendapatkan perhatian serius pemerintah. Bahkan, seringkali menghadapi jalan terjal penuh tantangan yang tak selalu datang dari segi ilmiah, tetapi lebih sering dipengaruhi faktor birokrasi, politis, dan kepentingan organisasi tertentu.
Hal itu disampaikan Hartanto Boechori selaku Ketua Umum Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) dan Penasihat Reverse Aging and Homeostasis (Raho) Club, saat acara pembukaan Raho Club cabang Lembaga Kesehatan Kelautan TNI Angkatan Laut (Lakesla) di Surabaya, beberapa waktu lalu.
“Salah satu contoh nyata, penelitian terapi infus gelembung nano hidrogen yang diinisiasi dan dilakukan Tim Peneliti Universitas Brawijaya yang tergabung dalam IMI (Institut Molekul Indonesia) di bawah bimbingan Prof. Sutiman Bambang Sumitro, SU., D.Sc. dan kawan kawan, bersama Raho Club. Terapi tanpa obat ini, menawarkan harapan baru dalam dunia kesehatan, sebagai garda terdepan pendukung kemajuan dunia kesehatan, khususnya yang mencari alternatif lebih alami dan tidak tergantung obat,” papar Hartanto Boechori.
Menurut Hartanto Boechori, Tim IMI dan Raho Club bekerjasama dengan pola simbiosis mutualisme. Tim IMI yang melakukan penelitian berfokus pada perbaikan metabolisme sel dan mengikis penyumbatan pembuluh darah sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit degeneratif seperti stroke, jantung, kanker, diabetes, alzheimer dan lain lain. Sedangkan Raho Club yang mengumpulkan naracoba dan donasi.
“Tak dapat dipungkiri, penelitian apalagi berskala besar, perlu dukungan banyak naracoba dan dukungan dana tidak sedikit,” kata Hartanto Boechori.
Sampai saat ini, Hartanto Boechori menjelaskan, berkumpul sekitar 13 ribu anggota/naracoba di Raho Club demi menggantungkan kesehatannya. Mereka terdiri dari berbagai kalangan majemuk, masyarakat umum berbagai kelas, dokter, akademisi, eksekutif, DPR, BIN, TNI, Polri, jurnalis, dan lain-lain.
“Kreatifitas anak bangsa tidak boleh diterbengkalaikan, apalagi sampai mati sia-sia. Pemerintah dan seluruh elemen Negara seyogyanya berbenah membuka ruang bagi anak Bangsa yang ingin menciptakan perubahan positif, apalagi di sektor medis yang sangat krusial. Dukung penuh Inovasi besar ini dan berikan perhatian serta bantuan selayaknya kepada para peneliti atau para innovator demi tercapainya angka ketahanan kesehatan Nasional yang prima bagi seluruh masyarakat dan elemen Bangsa,” katanya.
Hartanto Boechori menambahkan, jajaran Kementerian Kesehatan, BPOM, dan semua pihak terkait serta berkompeten dalam bidang perijinan.
“Saya harapkan bahu-membahu membantu kemudahan penerbitan perijinan bagi Raho Club serta berbagai peneliti atau innovator lainnya yang berpotensi menguntungkan masyarakat, Bangsa dan Negara kita. Bahkan saya berharap, ke depan terapi gelembung nano Raho Club ini dirangkul BPJS,” ucapnya.
“Terima kasih saya sampaikan juga kepada aparat penegak hukum yang telah ikut berperan mendukung suksesnya penelitian IMI bersama Raho Club demi tercapainya ketahanan kesehatan Nasional yang prima bagi seluruh masyarakat dan elemen Bangsa,” tutur Hartanto Boechori.
Menurut Hartanto Boechori, institusi TNI AL pun secara terbuka ikut melakukan penelitian terapi gelembung nano bersama Raho Club dan IMI. Dan untuk kepentingan penelitian, maka 22 Agustus 2024 lalu, pihak TNI AL membuka Raho Club cabang Lembaga Kesehatan Kelautan TNI AL (Lakesla) di Surabaya.
Hadir para tokoh penting pada acara pembukaan cabang besar Raho Club itu, diantaranya eks Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI (Purn) Soeparno, Inspektur Komando Armada (Ir Koarmada) II Laksma TNI Eriyawan, Direktur Doktrin Kodiklatal Laksma TNI Nouldy J. Tangka, Kepala Lakesla Kolonel Laut (K) dr. Pudjo Laksono, eks Kapolda Jatim/Wakabareskrim Polri Irjen Pol (Purn) Hadiatmoko, Prof. Sutiman Bambang Sumitro, pengurus IMI, Ketua Umum Raho Club Kan Eddy, dan anggota DPR RI Bambang DH. (EH-051)
