PBNU Secukupnya, NU Selamanya: Refleksi Tiga Dekade Khidmah Gus Fahrur Dalam Pengabdian Tanpa Batas

0
21

Jombang || Cakrayudha_hankam.com – Setelah hampir tiga puluh tahun mencurahkan tenaga dan pikirannya di struktur Nahdlatul Ulama, Ketua PBNU Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), menyampaikan refleksi mendalam mengenai perjalanan pengabdiannya.

Lewat pesan emosional bertajuk “PBNU Secukupnya, NU Selamanya”, Gus Fahrur memberikan sinyal pengunduran diri secara berkala dari panggung struktural untuk kembali fokus mengasuh pesantren.

Perjalanan khidmah Gus Fahrur di organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia dimulai sejak tahun 1995. Ia memulai langkah dari bawah sebagai Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Kabupaten Malang. Rekam jejak kepemimpinannya terus menanjak hingga tingkat nasional.

Gus Fahrur mencatat sejarah panjang pengabdian di berbagai posisi strategis, di antaranya:

▪︎ LBM PWNU Jawa Timur: Berkiprah bersama ulama kharismatik seperti KH Miftahul Akhyar dan KH Afifuddin Muhajir pada era 2000-an.

▪︎ PP Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI): Mengabdi selama dua periode (10 tahun) sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat RMI.

▪︎ Struktur Wilayah & Lembaga: Pernah menduduki posisi di PP LP Ma’arif PBNU serta menjabat Wakil Sekretaris dan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.

▪︎ PBNU: Mengemban amanah jajaran jajaran Pengurus Besar NU sebagai Ketua Bidang Keagamaan.

Bagi Gus Fahrur, rekam jejak itu sudah lebih dari cukup. Ia menegaskan kesiapannya untuk berlapang dada dan ikhlas melepaskan jabatan struktural, menyadari bahwa setiap amanah kepemimpinan memiliki batas waktu.

“Kini rasanya sudah saatnya kembali ke barak. Kembali ke pesantren, mengajar santri, mengurus ngaji, dan melanjutkan pekerjaan kecil yang mungkin tidak ramai di bicarakan. Semoga lebih dekat dengan keberkahan,” ungkap Gus Fahrur dari Jombang, Jumat (28/8/2026).

Adapun Prinsip “PBNU Secukupnya, NU Selamanya” yang diusung gus Fahrur, ia mempertegas perbedaan antara jabatan struktural dan nilai ke-NU-an.

Menurutnya, kepengurusan di PBNU boleh saja berakhir seiring berjalannya waktu, namun jiwa, dedikasi, dan keberadaan sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama akan terus melekat hingga akhir hayat. (Red/RMT/Tim)