PASTOOR: Ketika Prajurit TNI Menyembuhkan Luka di Tanah Papua

    0
    301

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di tengah sunyi dan terpencilnya pegunungan Papua, ada langkah kecil yang membawa harapan besar. Mereka datang tanpa sirene, tanpa sorotan kamera hanya membawa kotak obat dan niat tulus: menyembuhkan, mendengar, dan merawat. Inilah misi PASTOOR (Pelayanan Kesehatan Door to Door), inisiatif kemanusiaan dari Satgas Yonif 732/Banau yang beroperasi di bawah Koops TNI Habema. Selasa 17 Juni 2025.

    Kegiatan yang digelar oleh Pos Jenggeren di Kampung Mamere, Distrik Beoga Barat, Kabupaten Puncak ini bukan sekadar aksi pengobatan. Ia adalah jembatan rasa antara TNI dan masyarakat ikatan yang tumbuh dari empati, bukan sekadar tugas.

    Menyapa dengan Obat, Merangkul Lewat Perhatian
    Dipimpin oleh Letda Inf Tubagus Gisti, para prajurit menyusuri medan Papua demi satu tujuan: menjangkau warga yang tak terjangkau oleh fasilitas kesehatan. Setibanya di Kampung Mamere, mereka tak perlu mengetuk pintu. Warga sudah berdiri menanti dengan harapan di mata mereka.

    Dengan sigap, Pratu Farhan Sangaji, seorang tamtama kesehatan, memeriksa satu per satu warga yang mengeluhkan berbagai penyakit, mulai dari nyeri sendi hingga demam berkepanjangan. Obat-obatan dibagikan, nasihat kesehatan diberikan, dan yang terpenting, mereka merasa diperhatikan.

    “TNI Tidak Hanya Menjaga, Tapi Menyembuhkan”
    “Pelayanan kesehatan ini merupakan wujud nyata kepedulian kami terhadap saudara-saudara kami di Papua. Kami hadir bukan hanya untuk menjaga perbatasan, tetapi juga untuk melindungi kehidupan dan harapan,” ungkap Dansatgas Yonif 732/Banau, Letkol Inf M. Nurul Chabibi, S.H.

    Kepala Kampung Mamere, Bapak Yacob, menyampaikan rasa harunya: “Saya sudah hampir seminggu menderita asam urat dan tidak ada yang bisa membantu. Namun, Bapak TNI datang membawa obat dan menunjukkan kepedulian kepada kami. Tuhan memberkati kalian, TNI bukan hanya tentara, tetapi juga penyelamat.”

    TNI Hadir dengan Hati
    Di daerah yang terpencil dan minim fasilitas modern, Satgas Yonif 732/Banau menunjukkan bahwa kehadiran TNI tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga dengan kemanusiaan. PASTOOR bukan sekadar sebuah program—ia melambangkan kehadiran negara yang menyapa dengan kasih sayang dan melindungi dengan kepedulian.

    Di Papua, menjadi prajurit berarti lebih dari sekadar mengangkat senjata. Terkadang, itu juga berarti mengulurkan tangan untuk memeriksa kondisi masyarakat.

    Sumber:
    (Pen Satgas Yonif 732/Banau/Red-033)