Papua Bangkit: Masyarakat Serentak Kecam Kekerasan OPM

    0
    84

    Pasca Penembakan Ketua Komnas HAM Papua

     

    JAYAPURA, Cakrayudha-hankam.com – Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata yang diduga merupakan bagian dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) terhadap Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramendey, telah memicu kemarahan yang meluas di kalangan masyarakat Papua. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, penembakan terhadap sosok yang dikenal sebagai pembela hak-hak warga Papua ini telah mengguncang hati masyarakat. Kejadian ini terjadi pada Senin, 5 Mei 2025.

    Reaksi keras muncul dari berbagai kalangan, termasuk tokoh adat, mahasiswa, dan aktivis kemanusiaan. Obed Enumbi, Kepala Suku Besar Mee Pago, dengan tegas mengutuk tindakan tersebut sebagai penyimpangan besar dari tujuan perjuangan OPM.

    “Bagaimana mungkin seorang anak Papua yang berjuang untuk HAM dan hak rakyatnya justru menjadi target kekerasan? OPM telah kehilangan arah dan tidak lagi mewakili kepentingan rakyat Papua,” tegas Obed dengan suara bergetar, pada Senin (5/5/2025) di Jayapura.

    Pendeta Alberth Kobak, Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Papua, juga dengan tegas mengecam tindakan tersebut.

    “Menembak Ketua Komnas HAM adalah pelanggaran kemanusiaan yang tidak dapat diterima. Gereja mendukung upaya damai, bukan kekerasan. OPM berusaha memecah belah, bukan mendamaikan,” ungkapnya dengan penuh keprihatinan.

    Selain tokoh adat dan agama, masyarakat Papua juga berunjuk rasa dalam aksi protes besar di berbagai kota seperti Jayapura, Wamena, Nabire, dan Merauke. Ribuan mahasiswa mengangkat suara mereka dengan spanduk yang bertuliskan “Selamatkan Papua dari Kekerasan,” “Kami Bersama Komnas HAM,” dan “OPM Bukan Wakil Suara Rakyat Papua.”

    Maria Wenda, salah satu koordinator aksi mahasiswa di Jayapura, menyatakan bahwa generasi muda Papua sudah cukup menderita akibat kekerasan yang mengganggu tanah kelahiran mereka.

    Kami menginginkan masa depan yang damai. Kami ingin belajar dan membangun tanah Papua. Tindakan OPM hanya menambah penderitaan kami,” kata Maria dengan semangat.

    Para mahasiswa juga menyerahkan petisi kepada Pemerintah Daerah dan perwakilan DPR Papua, mendesak agar tindakan tegas diambil terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang sering mengganggu kedamaian.

    Tidak hanya di jalan, seluruh elemen masyarakat Papua kini bersatu dalam satu suara: Papua ingin hidup dalam kedamaian. Mereka menuntut agar segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan perjuangan segera dihentikan. Dari tokoh adat hingga aktivis muda, mereka sepakat bahwa Papua harus dibangun dengan semangat persaudaraan, kedamaian, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

    Peristiwa penembakan yang menimpa Ketua Komnas HAM Papua bukan sekadar sebuah tragedi, melainkan juga merupakan momen krusial bagi masyarakat Papua untuk memperkuat solidaritas dan menegaskan komitmen mereka terhadap perjuangan damai. Ini adalah panggilan bagi semua pihak untuk memastikan bahwa Papua tetap menjadi wilayah yang aman, sejahtera, dan penuh harapan bagi semua.(APK/Red1922/Red-033)