OPM Kembali Buat Resah Warga Distrik Sinak

    0
    47

    Ancaman Bunuh Warga Sipil jika Tak Bergabung

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Situasi keamanan di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua kembali terganggu akibat tindakan intimidasi dari kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pada Selasa, 10 Juni 2025, kelompok ini dilaporkan mengancam akan membunuh warga sipil yang menolak untuk bergabung atau memberikan dukungan kepada perjuangan bersenjata mereka.

    Beberapa warga yang berhasil dihubungi melalui jaringan komunikasi terbatas mengungkapkan bahwa mereka kini hidup dalam ketakutan. Aktivitas sehari-hari mereka terganggu, dan banyak yang memilih untuk mengungsi ke kampung-kampung terdekat atau hutan demi melindungi diri dari ancaman kekerasan.

    “Saat mereka (OPM) datang, mereka menodongkan senjata kepada kami. Kami diancam untuk bergabung dengan mereka atau dianggap sebagai musuh. Ini sangat tidak manusiawi. Kami hanya ingin hidup tenang dan aman bersama keluarga,” kata seorang warga yang meminta namanya dirahasiakan demi keselamatan, pada Selasa (10/6/2025).

    Menanggapi situasi tersebut, Pdt. Marthen Telenggen, seorang tokoh gereja di Pegunungan Tengah, mengungkapkan keprihatinan yang mendalam. Ia berpendapat bahwa metode yang diterapkan oleh OPM saat ini telah jauh menyimpang dari nilai-nilai perjuangan sejati rakyat Papua.

    Tidak ada perjuangan yang sah jika dilakukan dengan cara-cara kejam dan memaksakan kehendak. Mengancam dan membunuh sesama hanya akan mempermalukan nama Papua di mata dunia, tegas Pdt. Marthen. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menyerah pada tekanan kekerasan dan tetap mempercayakan perlindungan kepada pihak berwenang.

    Tokoh adat setempat, Apolos Wonda, menyerukan agar masyarakat tetap bersatu dan tidak terpecah belah akibat tekanan dari OPM.

    Ia menekankan bahwa masyarakat Papua seharusnya menjadi bagian dari pembangunan, bukan korban dari kepentingan kelompok kecil yang merusak kedamaian.

    Menurut Apolos, OPM hanya membawa ketakutan, bukan kemerdekaan. Mereka memaksa masyarakat untuk terlibat, padahal rakyat hanya ingin hidup dalam damai. “Ini bukan perjuangan, ini pemaksaan,” ujarnya.

    Peristiwa di Distrik Sinak mencerminkan dengan jelas bagaimana kelompok OPM telah menggunakan kekerasan dan ancaman untuk mempertahankan keberadaannya.

    Di tengah usaha pemerintah untuk membangun Papua yang damai dan sejahtera, tindakan intimidasi ini menjadi hambatan yang signifikan. Kini, harapan besar diletakkan pada masyarakat dan aparat untuk bersama-sama melindungi Tanah Papua dari pihak-pihak yang merusak kedamaian. (Red-033)