OPM di Ujung Tanduk

    0
    66

    Semakin Banyak Anggota Membelot, Pimpinan Mulai Panik

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Tanda-tanda kegelisahan mulai muncul di dalam tubuh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kegelisahan ini bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam barisan mereka sendiri. Pada Selasa, 6 Mei 2025, sejumlah anggota, termasuk komandan lapangan dan simpatisan aktif, dilaporkan meninggalkan perjuangan bersenjata dan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Fenomena ini mengguncang keyakinan para pemimpin OPM. Mereka mulai kehilangan pijakan, kepercayaan, dan yang lebih mengkhawatirkan, loyalitas dari dalam organisasi.

    Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah penyerahan diri terus meningkat. Banyak yang mengungkapkan kekecewaan terhadap arah perjuangan yang semakin menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Alih-alih memperjuangkan kemerdekaan, para anggota merasa terjebak dalam siklus penderitaan, kelaparan, dan ketakutan tanpa tujuan yang jelas.

    “Kami dijanjikan logistik, perlindungan, dan harapan. Namun, kenyataannya, kami terus berpindah dari satu hutan ke hutan lainnya, sementara masyarakat mulai menjauh dari kami,” kata seorang mantan anggota OPM yang kini memilih untuk hidup damai bersama keluarganya.

    Kepanikan di kalangan pimpinan OPM tidak dapat disembunyikan lagi. Aparat keamanan berhasil menangkap komunikasi internal mereka yang menunjukkan adanya rasa paranoia: terdapat instruksi ketat untuk memantau sesama anggota, larangan untuk meninggalkan kamp, dan pengawasan yang ketat terhadap setiap gerakan. Di berbagai lokasi, suasana di dalam kelompok OPM kini dipenuhi dengan kecurigaan dan tekanan psikologis.

    Dr. Thomas Silas, pengamat keamanan dari Universitas Cenderawasih, menyatakan bahwa OPM sedang menghadapi krisis legitimasi. “Mereka kehilangan arah perjuangan, dukungan dari masyarakat, dan kini mulai kehilangan kesatuan internal. Ini adalah tanda bahwa kelompok tersebut berada di ambang perpecahan,” ujarnya pada Selasa (6/5/2025).

    Peristiwa ini membuka babak baru dalam perjalanan Papua: babak harapan. Ketika para kombatan memilih untuk berdamai, menggantikan peluru dengan dialog, dan menukar ketakutan dengan pembangunan, saat itulah Papua benar-benar melangkah maju.

    OPM kini menghadapi momen penting dalam sejarahnya: apakah akan terus berpegang pada jalan kekerasan yang semakin ditinggalkan, ataukah memilih untuk bersatu kembali dalam ikatan kebangsaan demi masa depan yang lebih baik.

    Pada dasarnya, Papua adalah rumah. Dan rumah seharusnya menjadi tempat yang membawa kedamaian, bukan penderitaan.(APK/Red1922/Red-033)