Noken dan Nurani: Ketika Prajurit TNI Merajut Harapan

    0
    44

    Bersama Mama Papua di Perbatasan

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di balik tanggung jawab besar menjaga perbatasan, terdapat kisah sederhana namun bermakna yang lahir dari hati dan budaya. Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 500/Sikatan membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu berkaitan dengan senjata dan patroli; terkadang, ia terwujud dalam bentuk penghargaan terhadap seutas benang dan hasil karya penuh kasih dari seorang ibu Papua. Pada Kamis, 5 Juni 2025, di TK Mamba, para prajurit hadir bukan untuk melaksanakan operasi militer, melainkan untuk menjalin komunikasi sosial yang tulus. Mereka datang untuk membeli noken, tas tradisional khas Papua yang dibuat oleh Mama Maleo Sani, seorang perempuan tangguh yang merajut kehidupan dan harapan dari setiap simpul benang.

    Dipimpin oleh Lettu Arh. Supriono, Pabintal Satgas, sepuluh personel Satgas mengunjungi Mama Maleo. Dalam suasana yang hangat, mereka tidak hanya membeli noken berwarna-warni, tetapi juga meresapi makna di balik setiap anyaman: ketekunan, cinta, dan identitas budaya yang perlu dilestarikan.

    “Ini bukan sekadar membeli tas. Ini adalah tentang menghargai perjuangan, budaya, dan kasih sayang seorang mama Papua. Setiap noken merupakan doa yang terjalin dalam setiap benangnya,” kata Lettu Supriono dengan penuh emosi.

    Mama Maleo, dengan senyum lebar, dengan bangga menunjukkan hasil karyanya. Suasana berubah menjadi momen pertemuan yang penuh makna antara prajurit negara dan penjaga budaya lokal. Warga setempat yang menyaksikan peristiwa ini pun merasakan haru dan kebanggaan—sebuah gambaran harmoni yang jarang terlihat.

    Sebagaimana diketahui, noken telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Noken bukan sekadar tas, melainkan simbol pentingnya peran perempuan Papua dalam keluarga dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, Satgas Yonif 500/Sikatan tidak hanya berfungsi sebagai penjaga wilayah, tetapi juga sebagai sahabat budaya dan penggerak pemberdayaan.

    Pangkoops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah humanis ini. “Prajurit kami bukan hanya pelindung batas, tetapi juga pelestari budaya. Kehadiran mereka mencerminkan kemanunggalan TNI dan rakyat. Membeli noken adalah investasi dalam warisan lokal dan masa depan masyarakat Papua,” ujarnya.

    Kisah Mama Maleo dan nokennya menggambarkan harapan, cinta, dan kebersamaan. Di perbatasan, di tengah berbagai tantangan dan keterbatasan, prajurit dan masyarakat bersatu untuk membangun masa depan, satu utas dan satu simpul pada satu waktu.

    Sumber:
    (Letkol Inf. Iwan Dwi Prihartono – Dansatgas Media HABEMA/Red-033)