Maharaja Kutai Mulawarman Yang Dipertuan Agung Diraja Nusantara Menunjukkan Eksistensinya Mewarisi Kerajaan Tertua Nusantara

0
395

Jakarta || Cakrayudha_hankam.com -Pertemuan Maharaja Kutai Mulawarman Yang Dipertuan Agung Diraja Nusantara dengan Kementerian Kebudayaan diwakili oleh Syamsul Hadi, Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat. Pertemuan pada hari Selasa, 3 Maret 2026 pukul 14.00 WIB di Ruang Rapat Dit. BKMA Gedung E Lantai 14, Kementerian Kebudayaan.

Pihak Kerajaan Kutai Mulawarman dipimpin Langsung oleh DYMM Prof. Dr. Maharaja Srinala Praditha Alpiansyah Rechza Fachlevie Wangsawarman, PhD. Dan DYAM Paduka Pangeran Ery Affandi Yusuf. Dan DYAM Paduka Putri Novianti Indudewi, serta Paduka Yang Mulia Pangeran dan AR Ruznie Oms mantan pejabat di lingkungan Pemkab Kutai Kartanegara yang tercatat pernah menjabat sebagai Asisten III/IV, salah satunya tercatat dalam mutasi pada tahun 2009 sebagai Asisten IV Bidang Administrasi Umum/Mantan Asisten III.

Dewan Adat Kabupaten Garut dihadiri oleh PYM Dr. (H.C.) Rd. Cepi S. Kusumah kehadiran beliau juga tidak lepas bersama Maharaja Kutai Mulawarman selaku yang di Pertuan Agung Diraja Nusantara yang merupakan serumpun Raja-Raja Adat dan Budaya Diraja Nusantara.

Poin penting di sampaikan oleh Maharaja Kutai Mulawarman Adalah pertama, perlunya ada Permen Tentang Pelestarian Kebudayaan Kerajaan Kutai Mulawarman yang bertujuan sebagai penguat Kebudayaan Kerajaan Tertua Nusantara.

Karena Kerajaan Kutai Mulawarman memiliki Sejarah Panjang dimulai tahun 17 masehi dengan adanya Kedatuan Sadipa Malaya yang pimpinannya di Sebut Tahani dan Tahani terakhir Adalah Maharaja Sri Kundungga, dan Kemudian di Era Kerajaan Sagara dimulai tahun 350 masehi era pemerintahan Maharaja Sri Aswawarman yang dilanjutkan Maharaja Sri Mulawarman Kerajaan ini berkembang sampai tahun 1635 masehi pada abad ke-16.

Kerajaan Kutai di Muara Kaman dikuasai oleh pengaruh VOC dalam berita tercatat pada tahun 1635 datanglah Kapal VOC terdiri dari 5 buah kapal perang dan 2 buah kapal pemburu VOC memasuki sungai Mahakam.

Terkait laporan dari VOC kepada Pemerintah di Nederland pada tanggal 7 November 1635 M. Terjadilah peristiwa kedatangan tentara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dengan membawa 5 buah kapal pemburu dan 2 buah kapal bersenjata meriam dan lainya memasuki sungai Mahakam, pimpinan kapal-kapal tersebut adalah Kapten Gerit Thomassen Pool, pada saat itu di Kerajaan Sagara di kutanegara Muara Kaman di Maharaja Setiya Yuda yang memerintah dalam tahun 1610-1635 M.

Poin lainya Adalah perlunya buku-buku Sejarah kutai, diberikan kata sambutan dari pihak Menteri Kebudayaan dan tokoh-tokoh pelopor budaya mendapat penghargaan, dan pihak Kerajaan kutai mulawarman melaporkan sebagaimana sejak 2010 adanya Majelis Kerapatan Agung Adat Nusantara Adalah penggagas daripada berdirinya Diraja Nusantara sebagai wadah serumpun Raja-Raja dan Sultan-Sultanah, Bangsawan, Keresian, Keramaan serta Masyarakat Hukum Adat se Nusantara.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh Dewan Adat Kabupaten Garut menyerahkan hasil karya penyalinan kitab-kitab kuno dalam Bahasa Sansekerta Sunda yang merupakan karya menata Kembali Sejarah sunda agara menjadi warisan Diraja Nusantara.

Syamsul Hadi, Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif Maharaja Kutai Mulawarman dalam melestarikan kebudayaan Kerajaan Kutai Mulawarman. Dia berharap kolaborasi ini dapat memperkuat upaya pemerintah dalam melindungi dan mempromosikan hak-hak masyarakat adat.

Dalam pertemuan tersebut, Syamsul Hadi juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan lembaga adat untuk memastikan hak-hak konstitusional masyarakat adat terpenuhi. Dia juga menyambut baik inisiatif Gerakan Sadar Budaya 2025 yang bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya bangsa.

Maharaja Kutai Mulawarman berharap bahwa pertemuan ini dapat memperkuat kebudayaan Kerajaan Kutai Mulawarman dan mempromosikan pelestarian kebudayaan Nusantara.

“Kami berharap bahwa kebudayaan Kerajaan Kutai Mulawarman dapat terus dilestarikan dan menjadi warisan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Pertemuan ini diakhiri dengan penyerahan cinderamata dan foto bersama antara Maharaja Kutai Mulawarman dan yang mewakili Menteri Kebudayaan. (red-056)