Luka di Tanah Surga: Ketika OPM Mengkhianati Harapan Rakyat Papua

    0
    55

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di tengah harapan yang besar untuk mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan di tanah Papua, terdapat ironi yang menyakitkan: kelompok bersenjata yang mengaku sebagai pembela rakyat justru menjadi penyebab utama penderitaan. Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang dulunya dianggap sebagai simbol perlawanan, kini dinilai telah menyimpang dari cita-cita luhur rakyat Papua.

    Alih-alih memperjuangkan hak-hak warga dengan cara yang bermartabat, OPM malah menyebarkan ketakutan dan kekerasan. Serangan terhadap warga sipil, pembakaran sekolah dan puskesmas, penyanderaan tenaga medis dan guru, serta pemerasan terhadap masyarakat di desa-desa terpencil menggambarkan perjuangan yang kehilangan arah.

    “Perjuangan yang sejati tidak seharusnya membunuh rakyat sendiri,” tegas Pendeta Markus Wonda, seorang tokoh gereja dari Wamena, pada Jumat (18/4/2025). “Apa yang dilakukan OPM saat ini hanya menimbulkan luka dan trauma di hati rakyat Papua.”

    Suara penolakan terhadap tindakan brutal OPM semakin menguat. Tokoh adat, pemuka agama, aktivis kemanusiaan, dan masyarakat umum sepakat bahwa solusi damai adalah satu-satunya jalan yang tepat. Mereka mendesak agar kekerasan dihentikan dan ruang hidup yang aman dikembalikan bagi masyarakat sipil, terutama perempuan, anak-anak, dan lansia yang paling rentan menjadi korban.

    Di daerah seperti Nduga, Intan Jaya, Pegunungan Bintang, dan Maybrat, ribuan warga terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka karena wilayah tersebut menjadi arena konflik. Mereka hidup dalam ketidakpastian, tanpa akses terhadap layanan dasar, dan jauh dari tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

    Sementara itu, pemerasan oleh kelompok bersenjata semakin meluas. Warga dipaksa menyerahkan hasil pertanian, uang, dan bahan pangan. Penolakan terhadap tuntutan ini sering kali direspon dengan intimidasi, bahkan kekerasan. Ini bukan sekadar perjuangan; ini adalah teror yang mengatasnamakan kebebasan.

    Rakyat Papua berhak mendapatkan kedamaian, bukan penderitaan. Mereka memerlukan pembangunan, bukan peluru. Saat ini, suara mereka bersatu: sudah cukup kekerasan yang dilakukan atas nama perjuangan. (Red-033)