Legislator PDIP Kritik Praktik Kuota Hangus

    0
    58

    JAKARTA, Cakrayudha-hankam.com – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sadarestuwati, mengungkapkan kritik tajam mengenai perbedaan mencolok antara pendapatan usaha, laba usaha, dan laba bersih perusahaan pada triwulan pertama 2025.

    “Pendapatan usaha pada triwulan pertama 2025 mencapai Rp36,6 triliun, dengan laba usaha sebesar Rp18,2 triliun dan margin 49,8 persen. Namun, laba bersih mengalami penurunan drastis menjadi Rp15,9 triliun. Sebagai BUMN strategis yang memiliki pangsa pasar kuat melalui Telkomsel, perbedaan ini memerlukan penjelasan yang mendetail,” ungkap Sadarestuwati di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (2/7).

    Legislator asal Jawa Timur ini juga mengkritik keras praktik kuota yang hangus, yang ia samakan dengan kebijakan promo dari aplikasi ojek online yang sering dikeluhkan masyarakat.

    “Jika di Komisi V kami menyebut promo ojol sebagai penipuan, maka di sini saya katakan bahwa Telkomsel bersikap kejam karena menghilangkan kuota pelanggan. Nilai yang hilang ini tidaklah kecil jika dihitung,” tegasnya.

    Sadarestuwati berbagi pengalamannya menghadapi keterbatasan jaringan. “Di daerah terpencil seperti desa saya, Starlink tidak tersedia. Untuk melakukan panggilan telepon, saya harus mencari lokasi dengan sinyal yang baik. Jika tidak menggunakan WiFi, saya harus keluar rumah terlebih dahulu,” ujarnya.

    Ia juga meminta agar ada transparansi dalam perhitungan kuota yang tidak terpakai, yang seharusnya berkontribusi pada keuntungan perusahaan. “Sebagai pengguna kartu Halo yang jarang menggunakan kuota, saya selalu membayar penuh setiap bulan. Lalu, ke mana perginya kuota sisa yang lebih dari 50 persen ini?” tanyanya.

    Mengenai kontribusi terhadap negara, Sadarestuwati menyoroti rendahnya realisasi pajak dan dividen BUMN telekomunikasi untuk periode 2020-2024, yang hanya mencapai Rp20,041,5 triliun. “Angka ini seharusnya bisa lebih tinggi,” kritiknya.

    Politikus dari PDI Perjuangan ini juga mengungkapkan keprihatinannya mengenai gangguan jaringan pada saat-saat penting. “Ketika penghitungan suara Pemilu berlangsung, tiba-tiba jaringan mengalami masalah dan muncul angka yang berbeda. Siapa yang bertanggung jawab, Telkom atau KPU? Mengapa bisa terjadi perubahan angka ini?” tegasnya. (Red-033)