Langkah Pulang di Bawah Bendera

0
137

Empat Putra Papua Kembali ke Pelukan Ibu Pertiwi

 

SINAK, Cakrayudha-hankam.com – Di bawah langit yang cerah dan angin sejuk yang membawa kedamaian dari pegunungan Papua Tengah, halaman Koramil 1717-02/Sinak menjadi saksi momen bersejarah yang penuh makna. Empat pemuda yang sebelumnya memilih jalan perlawanan kini berdiri tegak, menggenggam lembaran ikrar, dan dengan penuh haru kembali memeluk bendera merah putih, simbol tanah air yang pernah mereka tinggalkan.

Yopi Tabuni, Erenus Tabuni, Kilistu Murib, dan Enden Tabuni—empat nama yang dulunya dikenal sebagai anggota OPM di bawah pimpinan Tenius—hari ini menciptakan sejarah baru. Di hadapan langit, tanah, dan rakyatnya, mereka secara resmi mengucapkan ikrar kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Acara yang berlangsung pada pukul 13.50 WIT ini dipimpin oleh Kapten Inf Finsa Wahyu Hariyono, S.S.T.Han., S.I.P., M.M., Wakil Dansatgas Yonif 700/WYC. Ia tidak hanya membawa misi militer, tetapi juga semangat persatuan dan cinta tanah air. Dalam sambutannya yang hangat, ia menyatakan, “Kita tidak datang membawa peluru, kita datang membawa pelukan bagi mereka yang ingin kembali.”

Sebelum ikrar dibacakan, doa pembuka yang dipimpin oleh Pendeta Yas Murib seolah memohon kepada langit untuk memberkati niat tulus empat anak bangsa ini. Mereka masih muda, tersesat, namun kini memilih untuk kembali—itulah makna sejati seorang pejuang: bukan yang tak pernah jatuh, tetapi yang tahu cara untuk pulang.

Kisah kelam perselisihan dalam tubuh OPM yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan pembakaran honai menjadi pelajaran pahit. Namun, di Sinak hari ini, kita tidak merayakan dendam. Kita merayakan kedewasaan hati untuk memaafkan dan keberanian untuk memulai lembaran baru.

Pada pukul 14.05 WIT, keempat mantan anggota OPM itu mengucapkan ikrar kesetiaan dengan suara yang bergetar namun tegas. Dengan tangan yang dulunya pernah memegang senjata, mereka menandatangani surat janji kepada negara—sebuah dokumen damai yang makna dan tintanya mengalir ke seluruh nadi bangsa.

Di hadapan sekitar 35 orang yang terdiri dari tokoh masyarakat, TNI-Polri, dan perwakilan pemerintah daerah, ikrar tersebut bukan sekadar formalitas. Ia merupakan sebuah pengakuan, pengampunan, dan harapan.

Momen paling mengharukan terjadi ketika mereka satu per satu mencium Sang Saka Merah Putih. Bendera itu tidak mempertanyakan asal mereka, melainkan menyambut mereka dengan hangat, karena rumah tidak pernah menolak anaknya yang kembali.

Pendeta Panus Magai, yang mewakili keluarga dan tokoh agama GKII, menyampaikan pesan yang sangat menyentuh. “Hari ini bukan hanya momen bagi keempat saudara kami, tetapi juga merupakan cahaya bagi masyarakat Distrik Sinak. Kami mengucapkan terima kasih kepada TNI-Polri, karena kalian tidak hanya menjaga wilayah ini, tetapi juga menjaga hati anak-anak Papua.”

Ia berharap langkah ini dapat menjadi contoh bahwa pelukan NKRI lebih kuat daripada godaan senjata. Keamanan sejati, menurutnya, tidak lahir dari dominasi, melainkan dari kasih dan keadilan.

Satgas Yonif 700/WYC tidak hanya membawa perintah, tetapi juga harapan. Mereka hadir sebagai penjaga dan pengayom, menjelma menjadi sahabat bagi tanah Papua. Sinergi antara TNI-Polri, pemerintah, dan tokoh masyarakat telah menciptakan jembatan emas bagi mereka yang ingin beralih dari kegelapan menuju cahaya.

Hari ini, tanah Sinak tidak hanya menjadi saksi satu peristiwa, tetapi juga menuliskan puisi kebangsaan dalam bentuk yang nyata. Ini adalah pelajaran bahwa senjata tidak akan pernah lebih abadi daripada pelukan, dan dendam tidak akan pernah lebih kuat daripada pengampunan.

Empat pemuda telah kembali, membawa serta harapan untuk masa depan Papua yang damai, sejahtera, dan penuh kasih.

“Merah putih telah menyentuh luka mereka, kini saatnya kita semua menjaga kedamaian.”
– Dari Tanah Papua, untuk Ibu Pertiwi.

Autentikasi:
(Pen Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 700 Wira Yudha Cakti/Red-033)