Kunjungan Risma ke Ponpes Al Fatah Temboro

    0
    160

    Cerita soal Penutupan 6 Lokalisasi di Surabaya

     

    Magetan,(Cakrayudha-hankam.com) – Calon Gubernur (Cagub) Jawa Timur (Jatim) nomor urut 3, Tri Rismaharini, menceritakan soal penutupan enam lokalisasi di Surabaya.

    Termasuk, Doly, yang dikenal sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Hal ini disampaikan Risma di hadapan Pimpinan Pondok Pesantren Al Fatah Temboro, KH Ubaidillah Ahror atau Gus Ubed pada Kamis (10/10/2024).

    Risma menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil karena kepeduliannya terhadap anak-anak yang terjebak dalam masalah prostitusi akibat keberadaan lokalisasi.

    “Sebelum menutup Doly, saya menangani anak-anak yang bermasalah. Setelah saya telusuri, anak-anak bermasalah itu justru berasal dari Doly. Jadi, ada enam lokalisasi yang saya tutup, dan Doly adalah yang keenam.

    Sebelumnya, saya sudah menutup lima lokalisasi lainnya, dimulai dari yang kecil,” ungkap Risma di Pondok Pesantren Temboro pada Kamis (10/10/2024). Risma juga mengaku bahwa terlibat langsung dalam penanganan anak-anak yang bermasalah di Surabaya.

    Ia mengaku sering kali mendatangi kepolisian jika ada laporan tentang anak yang tertangkap dalam praktik prostitusi, bahkan pada dini hari. “Jam 5 pagi saya dihubungi jika ada anak tertangkap prostitusi di kepolisian.

    Saya datang sendiri.
    Setelah saya telusuri, ternyata masalahnya ada di lokalisasi. Akhirnya, saya tutup,” imbuhnya. Selama melakukan kunjungan ke sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Timur, Risma menemukan bahwa pondok pesantren memberikan kontribusi signifikan dalam menangani masalah anak-anak.

    Ia menceritakan tentang salah satu anak punk yang berhasil menjadi eksportir tanaman hias setelah mendapatkan pembinaan di pondok pesantren. “Satu anak punk kemarin berhasil menjadi eksportir tanaman hias.

    Padahal, saya dulu yang menjahit telinganya dan membeli alat untuk menghilangkan tatonya,” ujarnya.

    Risma menambahkan bahwa pondok pesantren yang didirikan secara swadaya masyarakat lebih banyak menampung siswa dibandingkan dengan sekolah yang disediakan oleh pemerintah.

    Ia berkomitmen untuk memprioritaskan bantuan bagi pondok pesantren dalam program kerjanya. Termasuk kesejahteraan para ustad dan ustazah yang berperan sebagai pembimbing dalam pendidikan.

    “Pondok pesantren ikut menangani permasalahan pendidikan untuk anak-anak,” ujar Risma.

    Saya sudah coba hitung jumlah siswa dan guru karena saya ingin anak-anak mendapatkan yang terbaik dan guru di swasta maupun pesantren itu mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik,” tandas Risma mengakhiri perbincangan bersama awak media ini.(Red)