Korban Penyerangan Brutal 45 Prajurit TNI di Deli Serdang Menanti Keadilan

    0
    119

    DELI SERDANG, Cakrayudha-hankam.com – Warga Desa Selamat di Deli Serdang, Sumatera Utara, menanti keadilan atas penyerangan yang dilakukan 45 prajurit TNI dari Batalyon Artileri Medan (Armed) 2/105 Kilap Sumagan pada Jumat (9/11/2024) malam. Indra Winoto Meilala salah satunya. Pria berusia 35 tahun ini masih dalam masa penyembuhan karena luka berat di kepala.

    Ketika dijumpai di rumahnya di Dusun III Desa Selamat, Indra menceritakan peristiwa yang menimpanya pada Jumat malam.

    Siang sebelum kejadian, Indra baru saja pulang ke rumahnya selepas mengajar sebagai guru olahraga di SD Islam Terpadu (IT) Ummu Hafidzah, Kecamatan Sibiru-biru. “Saya duduk-duduk lah main handphone di rumah.

    Sekitar pukul 22.00 WIB, ada ribut-ribut. Warga yang lewat teriak geng motor atau begal gitu,” kata Indra saat diwawancarai di rumahnya, Rabu (20/11/2024). Ayah dari tiga anak ini mengambil sepeda motornya dan melaju ke arah keributan. Tiba di depan jambur, dia memarkirkan sepeda motornya.

    “Lalu, saya ditarik, dipiting, tak ada basa-basi langsung dipukul, dipijak. Kayak mana pengeroyokan lah,” ucap Indra.

    Indra berusaha melarikan diri, tapi tubuhnya dihujani pukulan. Tak dapat dipastikannya apa saja alat yang dipakai prajurit Armed.

    Kepalanya pun terluka akibat benda tajam. Setelah itu, Indra dibawa ke markas Armed 2/105. Ia didudukkan lalu dibiarkan pulang sekitar pukul 22.50 WIB. Dia diantar menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Hidayah. Namun, karena rumah sakit itu tak memiliki alat untuk menscreening kepala, dia bersama keluarganya menuju Rumah Sakit Umum Sembiring di Deli Tua.

    “Saya dirawat di situ. Ada delapan jahitan di kepala. Di bagian badan ya ada bekas memar, cuma tak ada yang sampai patah,” ujar Indra.

    Kemudian, pada Sabtu (10/11/2024) sore, sejumlah prajurit TNI menjenguknya. Tak lama, dia dibawa ke Rumah Sakit Putri Hijau untuk menjalani perawatan intensif.

    “Di situ, sempat bertemu dengan Pangdam dan mereka minta maaf atas peristiwa penyerangan itu,” ungkap Indra.

    Namun, ia tak bisa berlama-lama di RS Putri Hijau. Sebab, dia harus mengikuti simulasi untuk mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPD).(Red)