Kesaksian Mantan Panglima Preman Tanah Abang

    0
    137

    Sebut Hercules, Bola-bola Setan

     

    JAKARTA, Cakrayudha-hankam.com – Nicholas Johan Kilikily, yang akrab dipanggil Nicho Kilikily, memberikan kesaksian tentang sosok Hercules, yang pernah menguasai Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat. Dalam masa itu, Nicho selalu berada di sisi Hercules, dianggap sebagai tangan kanannya dan seperti panglima perang. Ia berbagi sedikit cerita tentang kehidupannya bersama Hercules di lokasi tersebut.

    Menurut Nicho, kakak Hercules secara langsung mengendalikan perjudian bola-bola setan. “Kakak Hercules sendiri yang mengatur bola-bola setan di bongkaran, judi. Jadi, kami berada di sekitar situ,” ujarnya kepada presenter Donny De Keizer, seperti yang dilansir dari Nusantara TV pada Rabu (8/5/2025).

    Praktik perjudian yang mereka jalankan sering kali terdeteksi oleh aparat gabungan. Akibatnya, bentrokan pun tak dapat dihindari. “Sering kali ada operasi gabungan yang melibatkan garnisun, polisi, dan Satpol PP. Mereka datang dalam jumlah besar dan tiba-tiba melakukan razia terhadap senjata tajam atau senjata api,” ungkapnya.

    Nicho, yang sering terlibat dalam bentrokan dengan aparat, menjadi sosok yang dihormati di kalangan teman-temannya. Ia selalu berada di garis depan saat terjadi konflik. “Kadang-kadang teman-teman salah paham tentang saya. Mereka menganggap saya berani, padahal sebenarnya bukan itu. Saya merasa seolah ingin mati, tetapi tidak jadi. Karena kurangnya kasih sayang dari orang tua, saat terjadi pertempuran, saya selalu maju tanpa berpikir panjang,” jelasnya.

    Ternyata ia tidak tewas di tangan polisi atau preman, dan kini masih hidup. Oleh karena itu, kita harus menjalani hidup dengan memberikan manfaat bagi orang lain saat ini,” ujarnya.

    Profil Hercules
    Rozario Marshal, yang lebih dikenal sebagai Hercules, pernah menjadi preman yang paling ditakuti di kawasan pusat perdagangan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pria asal Timor Leste ini membangun “dinasti” premannya pada akhir tahun 1980-an dan menguasai pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara hingga tahun 1996.

    Akhir kejayaannya ditandai oleh perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok jago Betawi yang dipimpin oleh Muhammad Yusuf Muhi, yang dikenal sebagai Ucu Kambing. Sebelum pindah ke Jakarta, Rozario terlibat dalam operasi militer Indonesia untuk memperjuangkan wilayah Timor Timur, yang kini dikenal sebagai Timor Leste. Ia menjabat sebagai Tenaga Bantuan Operasi (TBO) dan bertugas sebagai juru angkut logistik.

    Sebelum “diadopsi” oleh militer Indonesia sebagai TBO, Rozario adalah seorang yatim piatu yang kehilangan kedua orang tuanya akibat pengeboman di wilayah Ainaro pada tahun 1978, seperti yang dilaporkan oleh New Mandala. Hercules mengungkapkan bahwa dia “berutang nyawa” kepada Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat sebagai kapten Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Timor Timur. Dia bahkan pernah menyatakan, “Prabowo adalah satu-satunya orang yang bisa menyerang saya tanpa saya mengangkat tangan untuk membalasnya.”

    Suatu ketika, saat mengirimkan logistik untuk tentara di Timor Timur, helikopter yang ditumpangi Hercules mengalami kecelakaan. Akibatnya, tangan kanannya terluka parah dan ia harus dilarikan ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Sayangnya, tangan kanannya tidak dapat diselamatkan dan harus diamputasi. Tidak tahan dengan perawatan di RSPAD, Hercules pun memutuskan untuk melarikan diri dari rumah sakit.

    Ia akhirnya terjerumus ke dalam “lembah hitam” Tanah Abang. “Saya merebut wilayah hitam (Tanah Abang) melalui pertarungan yang sangat sengit. Hampir setiap malam, ada orang yang tewas di sana,” kenang Hercules, seperti yang dilaporkan oleh Tribun-Timur.com. Bersama teman-temannya dari Timor Timur, Hercules mulai membangun kekuasaannya di Tanah Abang. Kelompok kecil yang awalnya ada itu berkembang pesat. Ia bahkan pernah memimpin hampir 17.000 “personel” yang tersebar di seluruh Jakarta. Hercules menggambarkan Tanah Abang sebagai daerah tanpa penguasa, di mana sering terjadi pembacokan dan perkelahian antarpreman. “Saat itu, saya masih tidur di bawah jembatan. Tidur pun tidak bisa tenang. Pedang selalu saya bawa. Bahkan saat mandi, saya tetap membawa pedang karena musuh bisa menyerang kapan saja,” ungkapnya. Meskipun tubuhnya kecil, keberanian pria kelahiran Timor Timur ini diakui sangat besar.

    Dalam konflik antarkelompok, Hercules sering kali menjadi pemimpin langsung. Ia dikenal sebagai sosok yang seolah tak bisa mati, selalu berhasil menghindar dari maut. Pernah, ia mengalami 16 luka bacok yang membuatnya harus dirawat di ICU, namun nyawanya tetap terselamatkan. Dalam sebuah perkelahian, peluru menembus matanya hingga mencapai bagian belakang kepala, tetapi itu pun tidak mengakhiri hidup pria berambut keriting ini.

    Hercules mengaku telah bertobat sejak tahun 2006. Saat ini, ia menjelajahi dunia bisnis di sektor perkapalan dan perikanan. “Kehidupan manusia bersifat sementara. Kita semua akan dipanggil satu per satu, tinggal menunggu saatnya. Sekarang saya menyadari pentingnya bertobat, terjun ke dunia bisnis, dan membantu mereka yang membutuhkan,” ungkap Hercules.

    Sebagai ayah dari tiga anak, ia juga mendirikan organisasi masyarakat yang dinamakan Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB). Melalui ormas ini, Hercules berharap dapat memberikan bantuan kepada masyarakat yang mengalami musibah. (Red-033)