Kerahkan 354 Personel TNI AD, Atasi Banjir di Bali dan NTT.

0
151

Jakarta,(Cakrayudha-hankam.com)-Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana mengatakan pihaknya mengerahkan 300 personel TNI AD untuk atasi banjir di Bali.

Ia menjelaskan sejak musibah banjir dan longsor melanda wilayah Bali pada 10 September lalu, TNI Angkatan Darat melalui jajaran Kodam IX/Udayana.

Langsung menurunkan personelnya untuk membantu proses evakuasi warga, pencarian korban, serta penanganan pascabanjir.

Saat ini lebih dari 300 personel TNI AD bersama Polri, Basarnas, dan instansi terkait sudah dikerahkan di berbagai titik,” kata Wahyu di Jakarta,Jumat (12/9).

Khusus di Bali, kata Wahyu banjir melanda sedikitnya 147 titik dan longsor di 32 titik dengan korban jiwa 14 orang serta kerusakan sejumlah fasilitas umum seperti rumah, pura, dan jembatan.

Selain membantu pencarian korban, prajurit TNI AD juga terlibat dalam pembersihan lumpur dan puing-puing pascabanjir. Kodam IX/Udayana juga telah mendirikan dapur lapangan dan posko darurat sebagai sarana percepatan distribusi logistik dan penanganan pengungsi.

Dalam kesempatan ini, Angkatan Darat juga ingin menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada para korban, sekaligus kami mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang.

Menjaga solidaritas,dan bergotong royong bersama seluruh aparat di lapangan agar Bali segera pulih dan aktivitas masyarakat bisa kembali normal,” tutup Wahyu.

Sementara itu, dilansir dari penerangan Kodam IX/Udayana, Jumat (12/9) TNI AD juga mengerahkan 54 personel atasi banjir bandang yang melanda Desa Sawu, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo. Personel terdiri dari 27 personel Kodim 1625/Ngada dan 27 personel Yonif TP 834/WM.

Hingga saat ini, tercatat tiga warga meninggal dunia yakni Remigius Sopi Bela (35), bayi perempuan Maria Kondriani F. Nua (6 bulan), dan Francelina Meli Boa (60). Sementara itu, empat orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian, meski terkendala keterbatasan alat.

Kerugian materiil sebanyak 35 rumah hanyut, dua jembatan di Teodhae rusak, serta puluhan hektare sawah dan jaringan irigasi hancur. Kondisi tersebut membuat dua desa, yakni Desa Ua dan Desa Sawu, terisolir.(Gs)