Kapolda Sumbar Beri Keterangan Berbeda soal Meninggalnya Siswa SMP yang Diduga Dianiaya Polisi

    0
    108

    Padang,(Cakrayudha-hankam.com) – Kapolda Sumatera Barat, Irjen Pol Suharyono, mengungkap cerita berbeda tentang penyebab kematian AM (13), siswa SMP, di Sungai Batang Kuranji, Padang.

    Suharyono mengatakan, AM meninggal diduga terjun dari jembatan saat ada pengamanan aksi tawuran, Minggu (9/6/2024).

    Suharyono mengatakan, hal itu berdasarkan keterangan dari teman AM, yang memboncengi korban saat kejadian.

    “Bahwa memang AM ini berencana akan masuk ke sungai, menceburkan diri ke sungai,” kata Suharyono kepada wartawan, Minggu (23/6/2024).

    Suharyono menceritakan, setiap malam Minggu sampai pagi, petugas rutin melaksanakan patroli cipta kondisi berdasarkan surat perintah yang sah.

    Pada hari kejadian, anggota Polri melaksanakan kegiatan pencegahan dan penanggulangan sebagai akibat tawuran, dengan melerai dua kelompok remaja yang akan melakukan tawuran.

    “Bisa sama-sama kita lihat barang bukti yang digunakan dalam aksi tawuran berupa senjata tajam. Jika anggota tidak bergerak cepat, kemungkinan akan menimbulkan korban jiwa,” kata Suharyono.

    Menurut Suharyono, sebelum peristiwa penemuan mayat sekitar pukul 11.55 WIB, sesuai keterangan saksi A yang memboncengkan AM, dia diajak masuk ke sungai untuk mengamankan diri dari kejaran polisi.

    Keterangan Kapolda Sumbar ini berbeda dengan hasil investigasi dari LBH Padang yang menduga AM dianiaya oknum polisi.

    Direktur LBH Padang, Indira Suryani, mengatakan telah melakukan investigasi terhadap kasus itu dan mengarah adanya unsur penganiayaan sebelum AM tewas.

    “Di sekujur tubuh korban terdapat luka-luka lebam yang diduga karena penganiayaan,” kata Indira.

    Indira mengatakan, sebelumnya korban bersama rekannya berinisial A berboncengan dengan sepeda motor milik AM melintasi Jembatan Batang Kuranji sekitar pukul 04.00 WIB.

    Saat melintasi jembatan itu, sepeda motor mereka dihampiri polisi yang sedang melakukan patroli.

    “Pada saat polisi menghampiri itu, dia menendang kendaraan korban. AM terpelanting ke pinggir jalan. Pada saat terpelanting korban berjarak sekitar dua meter dengan rekan korban A,” kata Indira.

    Menurut Indira, berdasarkan keterangan A, korban A masih sempat melihat AM berdiri, namun dikelilingi oknum polisi yang memegang rotan.

    Kemudian A diamankan oknum polisi lain, dan setelah kejadian itu tidak lagi mengetahui keadaan AM hingga akhirnya ditemukan tewas di sungai.

    “Dari keterangan itu, hingga adanya luka lebam di sekujur tubuh, ini berat dugaan sebelum tewas AM dianiaya dulu,” kata Indira pada awak media mengakhiri perbincangan.(Red)