Kapan Idul Fitri 2025? Ini Pandangan Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah!

    0
    83

    JAKARTA, Cakrayudha-hankam.com – Idul Fitri 2025 semakin mendekat, dan puasa Ramadhan hanya tinggal beberapa hari lagi. Momen Lebaran 2025 sangat dinanti oleh umat Muslim yang ingin merayakan hari kemenangan.

    Setiap tahun, pelaksanaan Idul Fitri di Indonesia sering kali berbeda. Penentuan 1 Syawal sering kali bervariasi antara organisasi Islam di tanah air, terutama antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan ini disebabkan oleh metode penghitungan yang digunakan.

    Muhammadiyah mengandalkan metode hisab, sementara NU menggunakan metode rukyatul hilal.

    Dengan perbedaan metode tersebut, kapan tepatnya Idul Fitri 2025 akan dirayakan?

    Idul Fitri Menurut Muhammadiyah
    Muhammadiyah telah jauh-jauh hari menetapkan tanggal pelaksanaan Idul Fitri 2025. Berdasarkan informasi dari situs resminya, 1 Syawal 1446 Hijriyah, atau Idul Fitri 2025, akan jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025.

    Penetapan ini sesuai dengan Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025.

    Selain itu, Muhammadiyah juga telah mengumumkan tanggal-tanggal penting untuk hari besar Islam lainnya, yaitu: 1 Zulhijah pada Rabu, 28 Mei 2025; Puasa Arafah pada 9 Zulhijah, yang jatuh pada Kamis, 5 Juni 2025; dan Idul Adha 2025 pada 10 Zulhijah 1446 H, yang akan dirayakan pada Jumat, 6 Juni 2025.

    Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan awal bulan Hijriah tanpa menunggu rukyatul hilal.

    Idul Fitri Menurut Nahdlatul Ulama (NU)
    Menurut laporan Kompas.com pada Jumat, 14 Maret 2025, Nahdlatul Ulama (NU) mengikuti tradisi penentuan 1 Syawal melalui metode rukyatul hilal, yaitu pemantauan bulan sabit.

    NU juga mengandalkan observasi dan perhitungan falak dalam menentukan tanggal tersebut. Saat ini, NU belum menetapkan kapan Idul Fitri 2025 akan dirayakan, karena mereka akan melakukan pemantauan hilal terlebih dahulu untuk memastikan apakah bulan sabit sudah terlihat.

    Pengamatan hilal akan dilakukan pada tanggal 29 Ramadhan (29 Maret 2025) di berbagai daerah di Indonesia. Jika hilal terlihat, maka 1 Syawal akan ditetapkan pada keesokan harinya, yaitu 30 Maret 2025.

    Dengan demikian, pelaksanaan Idul Fitri 2025 oleh NU mungkin akan berbeda dari Muhammadiyah. Namun, jika hilal tidak terlihat, maka puasa akan dilanjutkan hingga 30 hari, dan 1 Syawal akan jatuh pada 31 Maret 2025.

    Idul Fitri Menurut Pemerintah
    Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) mengenai Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama, pemerintah telah menetapkan Hari Libur Nasional untuk tahun 2025 pada tanggal 31 Maret hingga 1 April.

    Tanggal tersebut bertepatan dengan perayaan Idul Fitri 1446 Hijriyah. Dengan demikian, kemungkinan Idul Fitri 2025 menurut pemerintah akan jatuh pada kedua tanggal tersebut.

    Namun, untuk memastikan tanggalnya, pemerintah akan menetapkan 1 Syawal 1446 H melalui sidang isbat yang akan diadakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Menurut informasi dari situs resmi Kemenag, sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal 1446 Hijriyah dijadwalkan berlangsung pada 29 Maret 2025, yang bertepatan dengan 29 Ramadhan.

    Sidang isbat akan dimulai sekitar pukul 18.45 WIB dan akan dilaksanakan secara tertutup. Hasil dari sidang isbat tersebut akan diumumkan melalui konferensi pers oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

    Lebaran 2025 Diperkirakan Akan Serentak
    Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Abu Rohmad, mengungkapkan bahwa Idul Fitri 2025 diperkirakan akan dirayakan secara serentak. Dengan demikian, baik Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), maupun pemerintah akan menjalani puasa selama 30 hari.

    “Menurut perhitungan hisab, Insya Allah (Idul Fitri 2025) kemungkinan akan jatuh pada tanggal 31 Maret, sama dengan Muhammadiyah,” ujar Abu di Kantor Kemenag, MH Thamrin, Jakarta, seperti yang dilansir oleh Kompas.com pada Jumat (21/3/2025).

    Ia menjelaskan bahwa durasi Ramadhan terdiri dari dua kemungkinan: 29 atau 30 hari. Jika umat Islam tidak dapat melihat hilal pada tanggal 29 Ramadhan, maka bulan Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari.

    “Jadi, Insya Allah, kita akan merayakan awal Syawal Idul Fitri secara bersama-sama,” tambahnya. (Red-033)