Inilah Lima Warisan Budaya Tak Benda di Sulawesi Utara yang Perlu Diketahui

    0
    294
    Proses pembuatan Nasi Jaha atau nasi bambu. Nasi jaha adalah salah satu warisan tak benda yang ada di Sulawesi Utara. [Foto: Int]

    KEPULAUAN TALAUD, Cakrayudha-hankam.com – Wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dikenal memiliki beragam karya budaya yang mencerminkan kekayaan tradisi Nusantara. Beberapa karya budaya daerah ini, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

    Berikut lima karya budaya asal Sulawesi Utara yang telah diakui dan memiliki nilai historis serta kearifan lokal dilansir dari laman warisan budaya Kemdikbud.

    1. Nasi Jaha Minahasa

    Nasi Jaha adalah salah satu kuliner khas Minahasa yang unik karena proses pembuatannya. Hidangan ini dimasak menggunakan bambu dan dipanggang hingga matang, memberikan cita rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Nasi Jaha sering disajikan sebagai makanan pendamping teh atau kopi, tetapi juga cocok dinikmati bersama lauk lainnya. Di luar Minahasa, makanan ini dikenal dengan nama nasi bulu.

    2. Saguer Minahasa

    Saguer merupakan minuman hasil fermentasi alami dari air sadapan mayang pohon nira, yang dikenal sebagai pohon seho oleh masyarakat lokal. Selain digunakan sebagai minuman tradisional dengan kadar alkohol rendah (5–10 persen) saguer juga diolah menjadi berbagai produk lain seperti cap tikus, cuka saguer, dan gula batu. Pohon seho sendiri memiliki nilai penting dalam budaya Minahasa karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan.

    3. Palelat

    Tradisi Palelat berasal dari Bolaang Mongondow Utara dan telah ada sejak tahun 1920-an. Palelat digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Tradisi ini melibatkan persiapan bersama oleh masyarakat, pelaku adat, dan imam untuk menyusun berbagai kue tradisional, hasil pertanian lokal, serta ramuan obat dalam wadah khusus. Prosesi ini ditutup dengan arakan Palelat ke dalam masjid, diiringi shalawat dan zikir.

    4. Mapalus

    Mapalus adalah bentuk gotong royong khas Minahasa yang mengedepankan semangat kebersamaan dan saling membantu. Kegiatan ini dilakukan secara bergiliran dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama. Tradisi Mapalus telah ada sejak dahulu dan tetap lestari hingga saat ini, mencerminkan nilai-nilai sosial masyarakat Minahasa yang menjunjung tinggi persaudaraan.

    5. Batifar

    Batifar adalah aktivitas menyadap air nira dari pohon aren atau seho yang dilakukan oleh kaum lelaki dewasa di Minahasa. Tradisi ini memanfaatkan alat-alat tradisional seperti bambu, ijuk, dan parang. Selain bernilai ekonomi, Batifar juga menjadi sarana bagi ayah untuk memperkenalkan pekerjaan kepada anak laki-laki mereka. Tradisi ini menegaskan pentingnya pohon seho dalam kehidupan dan budaya masyarakat Minahasa.

    Kelima karya budaya ini menjadi bukti bahwa Sulawesi Utara tidak hanya kaya akan keindahan alam, tetapi juga memiliki warisan budaya yang berharga dan perlu dilestarikan. Penetapan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk terus menjaga dan menghormati tradisi leluhur mereka. (Red-050)