IMI Luncurkan ‘IStRI’. Teknologi Nanobubble Harapan Baru Rehabilitasi Stroke

    0
    151

    SURABAYA, Cakrayudha-hankam.com – IMI (Institut Molekul Indonesia) mendirikan divisi baru bernama “Indonesia Stroke Recovery Initiation” (Inisiasi Pemulihan Stroke di Indonesia), yang kemudian diperkenalkan dengan sebutan keren ‘IStRI’. Divisi ini dihadirkan sebagai inovasi medis yang memadukan teknologi mutakhir dan pendekatan manusiawi untuk mempercepat dan memperbaiki proses pemulihan pasca-stroke. Pada tahap awal, divisi ini akan diluncurkan bulan ini di RAHO Premier Darmo Hill Surabaya.

    Tim yang terlibat dalam divisi ini terdiri dari dokter, terapis, peneliti, hingga pendamping pasien. Dokter akan memantau kondisi medis pasien, terapis membantu latihan pemulihan, peneliti memastikan terapi berjalan secara ilmiah dan aman, serta tim pendamping akan mendukung pasien dan keluarganya selama proses terapi. Tim bekerja sama mendampingi pasien dari awal terapi hingga tahap lanjutan.

    Sebagai langkah awal, IStRI telah merancang program pemulihan selama 10 minggu. Program ini mengadopsi pendekatan holistik yang mencakup terapi fisik, dukungan psikososial, dan edukasi untuk keluarga. Menurut dr. Adit, pemulihan dari stroke tidak hanya berkaitan dengan penanganan gejala fisik, tetapi juga melibatkan aspek emosional dan sosial. “Kami menyediakan edukasi dan dukungan emosional, termasuk untuk keluarga. Pendekatan menyeluruh ini sangat penting, karena kami ingin pasien pulih sebagai individu yang utuh, bukan sekadar sembuh dari gejalanya,” jelas dr. Adit kepada media ini.

    IStRI lahir dari rasa empati dan kepedulian terhadap ribuan penyintas stroke di Indonesia. Hampir tidak ada pasien stroke yang dapat keluar dari rumah sakit dan benar-benar sembuh. Proses pemulihan seringkali memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan ada yang membutuhkan belasan atau puluhan tahun. Sayangnya, banyak di antara mereka yang tidak pernah pulih sepenuhnya seumur hidup. Kondisi inilah yang mendorong dr. Aditya Tri Hernowo, Ph.D., seorang dokter dan peneliti di Institut Molekul Indonesia (IMI), untuk menginisiasi pembentukan divisi ‘IStRI’.

    Divisi ini memiliki keunikan tersendiri berkat pendekatan terapinya yang memanfaatkan teknologi nanobubble secara intensif. Nanobubble adalah gelembung gas berukuran nano yang relatif baru, yang dapat mengangkut oksigen dan molekul penting langsung ke jaringan tubuh yang mengalami gangguan aliran. Dengan demikian, teknologi ini dapat mempercepat perbaikan aliran darah dan mendukung regenerasi jaringan otak yang rusak akibat stroke.

    Tujuan utama pendirian IStRI adalah memanfaatkan terapi nanobubble untuk mempercepat dan meningkatkan pemulihan bagi penyintas stroke. Di masa depan, terapi ini diharapkan dapat diterapkan secara luas di seluruh Indonesia, tidak hanya di rumah sakit besar, tetapi juga di komunitas dan fasilitas kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat, bahkan di daerah terpencil. Untuk memastikan keberlanjutan program ini, IStRI bekerja sama dengan institusi medis dan akademik. Dalam jangka panjang, dr. Adit berharap terapi ini dapat diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional dan ditanggung oleh asuransi, JKN, atau BPJS.

    Di akhir wawancara, dr. Adit menyampaikan pesan, “Untuk para penyintas stroke, jangan pernah kehilangan harapan. Ilmu pengetahuan terus berkembang. Saat ini, ada teknologi baru yang dapat membantu kalian pulih dengan lebih baik dan lebih cepat. Kalian tidak sendirian. Kami ada di sini untuk mendampingi setiap langkah kalian,” tutup dr. Adit dengan nada optimis dan penuh harapan.

    Berikut adalah penjelasan yang disampaikan oleh Dr. Adit kepada Ketua Umum PJI (Persatuan Jurnalis Indonesia), Hartanto Boechori, yang juga menjabat sebagai Penasehat RAHO Club.

    Secara ringkas, teknik nano bubble diperkenalkan oleh Prof. Sutiman Bambang Sumitro, SU., D.Sc., seorang Guru Besar di Universitas Brawijaya, bersama timnya. Konsep dasar dari nanobubble melibatkan pemecahan molekul gas menjadi partikel nano, yang ukurannya seribu kali lebih kecil dari mikrometer. Partikel-partikel ini kemudian diinfuskan ke dalam tubuh manusia. Karena ukurannya yang nano, partikel ini mampu menembus celah-celah terkecil dalam pembuluh darah dan bahkan dapat mengatasi serta mengikis penyumbatan yang ada di dalamnya.

    Untuk mendukung uji klinis dan penelitian, diperlukan dana yang cukup besar. Oleh karena itu, RAHO Club didirikan. Saat ini, RAHO Club memiliki sekitar 15 ribu anggota yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pengusaha, pejabat tinggi dan anggota BIN, perwira tinggi TNI, perwira tinggi Polri, anggota DPR RI, jurnalis, masyarakat umum, serta dokter dan spesialis medis, bahkan entrepreneur dari luar negeri. Mereka semua berpartisipasi dalam RAHO Club dan secara rutin menjalani terapi infus gelembung nano.

    Ketua RAHO Club, Kan Eddy, adalah seorang pengusaha di bidang properti. Ia merasa terpanggil untuk mengembangkan terapi gelembung nano di RAHO Club setelah mengalami kesembuhan dari stroke yang dideritanya selama 1,5 bulan, hanya dengan tiga kali infus gelembung nano.

    RAHO Club pada dasarnya menyediakan naracoba serta seluruh dana untuk penelitian yang dilakukan oleh puluhan profesor, doktor, dan peneliti dari Universitas Brawijaya di bawah naungan IMI. IMI merupakan tim peneliti yang didirikan oleh beberapa guru besar Universitas Brawijaya, dengan fokus pada penelitian teknologi gelembung nano sebagai ‘senjata utama’ untuk mengatasi berbagai penyakit degeneratif, seperti stroke, penyakit jantung koroner, kanker, dan lainnya. (Red-033)