HUT Ke-18 Padepokan Gunung Pegat dan Halalbihalal Digelar Khidmat di Joglo Pesarean Eyang Kudo Kardono

    0
    275

    Surabaya, cakrayudha-hankam.com – Dalam suasana penuh makna dan nuansa kultural Jawa yang kental, Padepokan Gunung Pegat (PGP) menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 sekaligus acara Halalbihalal pada Minggu (20/4/2025) bertempat di Joglo Pesarean Eyang Kudo Kardono, Jalan Cempaka No. 25, Surabaya. Acara dimulai pukul 09.00 pagi hingga usai dengan suasana guyub rukun dan penuh kekhidmatan.

    Joglo yang menjadi lokasi acara merupakan tempat yang sarat nilai sejarah dan spiritual, menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus pusat pemersatu berbagai elemen budaya Jawa. Kehadiran para tamu undangan dari berbagai penjuru Nusantara, seperti pengurus Spiritual Indonesia Jawa Timur, Jamaah Majelis Ilmu “Harimau Nusantara”, hingga tokoh adat Suku Tengger, Pandita Romo Sukarji, turut menambah kekayaan makna dari acara tersebut.

    Dalam sambutannya, Romo Wisnu selaku Ketua Umum DPP Padepokan Gunung Pegat menyampaikan bahwa acara ini merupakan momentum penting untuk merajut silaturahmi antar komunitas budaya dan spiritual Jawa.

    “Acara ini menjadi ajang penyambung rasa antar saudara se-dharma, se-budaya, dan se-nusantara. Yang hadir hari ini hanyalah sebagian kecil; kalau semua hadir, takkan cukup tempat ini menampung,” ungkap beliau dengan penuh kehangatan.

    Lebih lanjut, Romo Wisnu menegaskan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin tahunan yang mampu melibatkan lebih banyak generasi muda.

    “Kita ingin warisan budaya dan nilai-nilai luhur leluhur kita tetap lestari dan mengalir hingga ke anak cucu. Budaya Jawa bukan sekadar warisan, tapi juga jalan hidup,” imbuhnya.

    Acara berlanjut dengan prosesi doa bersama atau ujup, yang dipimpin langsung oleh Pandita Romo Sukarji dari Bromo Tengger. Dalam tradisi Jawa, ujup menjadi bentuk permohonan restu kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur agar senantiasa memberikan tuntunan dan keselamatan.

    Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan terhadap kebijaksanaan leluhur. Suasana kemudian semakin meriah dengan ramah tamah yang diiringi pertunjukan seni Campursari, menggambarkan harmoni antara masa lalu, kini, dan masa depan budaya Jawa.