Harmoni Iman dan Nasionalisme di Tapal Batas Papua

    0
    64

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di balik kabut yang menyelimuti pegunungan Papua, jauh dari hiruk-pikuk kota, sebuah kisah keindonesiaan muncul dengan lembut. Bukan dari suara senjata, melainkan dari sapaan hangat dan pelukan damai antara prajurit TNI dan dua pendeta dari daerah terpencil. Rabu, 16 April 2025.

    Di Pos Pintu Jawa, Distrik Mage’abume, para prajurit Satgas Pamtas Mobile RI-PNG Yonif 700/Wira Yudha Cakti sedang melaksanakan tugas menjaga perbatasan negara. Namun, pada hari itu, misi mereka beralih menjadi sebuah aksi kemanusiaan yang menyentuh: menyerahkan bendera Merah Putih dan Alkitab kepada dua pemimpin rohani yang datang dengan harapan besar dan hati yang tulus.

    Pendeta Etinus Walia dari Kampung Komabaga dan Pendeta Pang Talenggen dari Kampung Geligi tidak datang untuk meminta bantuan logistik atau perlindungan. Sebaliknya, mereka meminta agar bendera Merah Putih dikibarkan di halaman gereja mereka. Ini merupakan simbol nasionalisme yang muncul di tengah keheningan doa, menegaskan bahwa mereka dan jemaatnya adalah bagian dari Indonesia yang utuh.

    Momen haru tersebut tidak berhenti di situ. Para prajurit juga memberikan Alkitab sebagai bentuk penghormatan terhadap keyakinan masyarakat. Dalam suasana yang penuh makna, Letda Inf Risal, Komandan Pos Pintu Jawa, menyerahkan kedua simbol tersebut dengan penuh rasa hormat.

    “Ini bukan sekadar tentang menjaga batas negara, tetapi juga tentang menjaga hati rakyat,” kata Letda Risal. “Ketika Merah Putih dan Alkitab dipeluk bersama, kami menyadari bahwa Papua sedang menulis bab baru dalam persatuan bangsa.”

    Pendeta Etinus dengan penuh keyakinan menyatakan, “Kami ingin anak-anak kami melihat bendera itu dan memahami bahwa mereka adalah anak Indonesia. Kami ingin mereka menyadari bahwa cinta kepada Tuhan dan cinta kepada tanah air dapat berjalan beriringan.”

    Pendeta Pang Talenggen menambahkan, “Kami tidak hanya menerima bendera, tetapi juga menerima kasih. Alkitab dan Merah Putih kini berdiri berdampingan, seperti iman dan bangsa yang tak terpisahkan.”

    Dari ujung timur negeri ini, kisah ini mengungkapkan harapan bahwa semangat keindonesiaan tidak hanya berakar di pusat kekuasaan, tetapi juga berkembang dengan kuat di daerah pedalaman. Semangat ini disirami oleh cinta, dijaga oleh doa, dan dilindungi oleh dedikasi TNI.

    Di perbatasan negeri, TNI dan masyarakat tidak hanya melindungi tanah mereka, tetapi juga sedang merajut makna Indonesia.

    Sumber:
    (Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)