Gebyar Sholawat Oleh Pemkab Pasuruan Tuai Sorotan dari Barikade Gus Dur

0
247

Pasuruan, Cakrayudha-hankam.com – Ketua Barikade Gus Dur Kabupaten Pasuruan, Moslem, menyoroti acara “Gebyar Sholawat” yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan karena dianggap menghamburkan anggaran untuk kegiatan seremonial. Menurut Moslim, Pemkab Pasuruan seharusnya lebih memprioritaskan anggaran untuk program-program yang lebih berdampak langsung pada masyarakat, seperti pembangunan, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan. Selasa (22/10).

Para kiai, para santri, para pemimpin daerah, dan segenap hadirin yang dimuliakan Allah SWT, memperingati Hari Santri Nasional, hari yang lahir dari fatwa jihad para ulama,
hari yang menandai kebangkitan santri dalam mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan keutuhan bangsa.

1. Hari Santri Adalah Momentum Spirit, Bukan Sekadar Seremonial

Hari Santri bukan hanya perayaan, tetapi perenungan dan penguatan nilai. Nilai keikhlasan, perjuangan, dan kebangsaan yang diwariskan oleh para kiai dan pejuang pesantren.

Karena itu, kegiatan Hari Santri harus diarahkan untuk memperdalam ruh perjuangan santri, bukan untuk menonjolkan individu atau tokoh,
apalagi menjadikannya ajang hiburan massal yang kehilangan makna spiritualnya.

2. Seyogyanya Hari Santri Menolak Kegiatan yang Menggeser Nilai Hari Santri

Akhir-akhir ini, banyak muncul rencana mengundang Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dalam peringatan Hari Santri.
Kami menghormati beliau sebagai tokoh yang mencintai shalawat.
Namun, panggung Hari Santri bukan tempat untuk pertunjukan hiburan massal yang cenderung berorientasi pada tontonan, bukan tuntunan.

Mengundang tokoh populer keagamaan dengan format konser shalawat sering kali:
– menghabiskan anggaran daerah yang semestinya untuk kegiatan pembinaan santri,
– mengalihkan perhatian dari esensi pendidikan dan kebangsaan santri,
– serta berpotensi menimbulkan fanatisme terhadap figur, bukan terhadap nilai perjuangan.
– Hari Santri harus kita jaga sebagai panggung ilmu, bukan panggung popularitas.

3. Kegiatan Hari Santri Harus Kembali ke Nilai Asal

Mari kita tegakkan kembali ruh Hari Santri dengan kegiatan yang mendidik, mencerahkan, dan memberdayakan, seperti:

Doa dan istighotsah nasional,

Lomba kajian kitab kuning dan hafalan sejarah ulama,

Dialog kebangsaan antara santri dan pemerintah,

Gerakan sosial santri: bakti masyarakat, lingkungan, dan pendidikan.

Itulah bentuk kegiatan yang lebih sesuai dengan makna “Resolusi Jihad” dan ajaran para kiai pendiri bangsa.

4. Menjaga Kemurnian dan Marwah Santri

Kita tidak menolak tokoh,
tetapi menolak bentuk kegiatan yang tidak sesuai nilai perjuangan santri.
Kita ingin Hari Santri menjadi momentum tafakkur, bukan euforia;
menjadi pembinaan iman, bukan hiburan; dan menjadi gerakan dakwah yang berakar dari pesantren, bukan dari panggung komersial.

5. Pesan Penutup

Hari Santri adalah milik semua santri, bukan milik kelompok tertentu, bukan milik figur tertentu.
Hari Santri adalah warisan bangsa,
yang harus dijaga dari penyimpangan makna dan penyalahgunaan dana publik.

Mari kita jaga kesucian Hari Santri dari arus hiburan yang menenggelamkan nilai perjuangan.
Mari kita kembalikan Hari Santri kepada cita-cita awalnya: meneguhkan iman, ilmu, dan cinta tanah air.

Untuk diketahui bahwa barikade Gus Dur sendiri aktif dalam menyuarakan isu-isu sosial dan toleransi. Organisasi ini telah menggelar berbagai kegiatan, seperti tasyakuran dan silaturahmi, untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur dalam mengedepankan kemanusiaan dan perdamaian. Dengan adanya kritik ini, Barikade Gus Dur menunjukkan perannya sebagai pengawas kebijakan pemerintah demi kesejahteraan masyarakat. (red-Tim)