Fakta Unik Jusuf Hamka

    0
    68

    Cita-Cita Jadi Tukang Parkir dan Tagih Utang ke Guru Kimia

     

    Jakarta,(Cakrayudha-hankam.com) – Jusuf Hamka kembali menjadi pembicaraan publik saat menagih utang ke pemerintah. Mulanya, utang pemerintah saat krisis moneter tahun 1998 tersebut hanya sekitar Rp170 miliar. Namun karena belum dibayarkan selama 25 tahun lalu, nilainya bengkak menjadi Rp1,4 triliun ditambah bunga.

    “Kalau sekarang sudah lebih dari Rp800 miliar, Rp1,4 triliun (bunga) sudah sama pokoknya,” kata Jusuf seperti dikutip media ini.

    Utang tersebut merupakan dana deposito perusahaan milik Jusuf Hamka yakni PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP) di Bank Yakin Makmur (YAMA).

    Namun terjadi krisis moneter 1998 yang membuat Bank YAMA mengalami kebangkrutan sehingga pemerintah memberikan memberikan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

    Adanya suntikan dana ini membuat deposito yang ada di Bank YAMA seharusnya menjadi tanggungan pemerintah.

    Di luar polemik utang piutang yang melibatkan Jusuf Hamka dengan pemerintah, pria yang disapa Baba Alun ini memiliki fakta unik:

    1. Bercita-cita Jadi Tukang Parkir
    Jusuf Hamka tidak pernah terbesit untuk menjadi konglomerat. Semasa kecil, cita-citanya hanyalah sebatas tukang parkir.

    “Kalau saya Alhamdulillah dari kecil enggak muluk-muluk, mimpinya cuma jadi tukang parkir,” ungkap Jusuf seperti dilansir media ini dari akun Youtube salah media online, dalam program D’Talks Spesial Ramadan, dikutip media ini pada Jumat (09/06/23).

    Dia mengaku sangat bersyukur atas berbagai capaian yang dimiliki. Kelebihan harta tersebut pun tidak sepenuhnya menjadi hak, sehingga harus juga dibagikan kepada orang lain.

    “Kalau dikasih lebih sampai hari ini ya Alhamdulillah, nikmati saja. Kelebihannya bagiin saja yang penting buat yang bermanfaat,” ujarnya pada awak media.

    2. Tagih Utang ke Guru Kimia
    Satu waktu, seorang guru kimia mendatangi kediaman Jusuf Hamka. Tujuannya, meminjam uang untuk membayar sekolah anaknya.

    “Waktu PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ada guru kimia meminjam duit. Katanya ‘anak saya enggak bisa sekolah karena belum bayar’. Pas dicek bener,” kata dia.

    Guru Kimia itu berjanji akan mengembalikan sejumlah uang yang dipinjamkan dengan cara dicicil.

    Namun, tiga tahun berlalu, utang tidak kunjung dibayar. Padahal, imbuh Jusuf Hamka, jika guru tersebut membayar utang, uangnya bisa digunakan untuk membantu orang lain.

    Jusuf Hamka berprinsip tidak suka memberikan bantuan kepada orang yang sifatnya konsumtif. “Kalau bagiin konsumtif saya enggak mau,” tandasnya menagkhiri perbincangan bersama awak media.(Red)