Duka Sidoarjo! Ambruknya Gedung Ponpes Al Khoziny Jadi Sorotan Media Asing

0
208

SIDOARJO, Cakrayudha-hankam.com – Runtuhnya gedung tiga lantai di kompleks asrama putra Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025), menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar pesantren. Salah satu lantai gedung tersebut diketahui difungsikan sebagai mushala, tempat para santri melaksanakan salat Ashar berjamaah ketika peristiwa terjadi.

Hingga Selasa (30/9), proses pencarian korban masih berlangsung. Tim penyelamat mendengar suara ketukan dari balik reruntuhan beton, diduga berasal dari santri yang berusaha memberi tanda masih hidup.

Ketua Alumni Pusat Ponpes Al Khoziny, Zainal Abidin, menyebut para korban sempat berusaha menarik perhatian dengan memukul beton di sekitar mereka. “Itu bentuk naluri bertahan hidup, berharap tim segera menemukan mereka,” katanya.

Namun, upaya evakuasi tidak berjalan mudah. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Kelas A Surabaya, Didit Arie Ristandy, menjelaskan kondisi bangunan sangat rapuh sehingga setiap pergerakan menimbulkan risiko baru. “Sedikit guguran saja bisa menimbulkan kepanikan. Karena itu, semua langkah dilakukan dengan penuh kewaspadaan,” ujarnya.

Data terbaru mencatat 102 orang berhasil dievakuasi, 11 di antaranya langsung ditangani tim SAR. Tiga santri meninggal dunia, sementara korban luka dirawat di RS Notopuro dan RS Siti Hajar. Sebagian besar korban selamat telah dipulangkan ke rumah masing-masing.

Sorotan Internasional

Tragedi ini juga menarik perhatian media asing, termasuk dari Jepang. Pemberitaan mereka menyoroti lemahnya standar keselamatan dalam pembangunan fasilitas pendidikan di Indonesia. Disebutkan bahwa musibah semacam ini bisa dicegah jika pengawasan konstruksi dilakukan dengan ketat.

Selain itu, media Jepang menekankan sisi kemanusiaan: santri muda harus menghadapi ancaman maut di tempat yang seharusnya aman untuk belajar sekaligus beribadah.

Doa dan Dukungan

Menteri Agama menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban. Ia menyebut para santri yang wafat sebagai syuhada. “Insya Allah mereka meninggal dalam keadaan ibadah dan akan dikenang sebagai syahid,” ujarnya.

Ketua MUI Bangkalan juga menceritakan bagaimana anaknya selamat dari musibah karena saat kejadian sedang berwudhu.

Di sisi lain, warga sekitar bergotong-royong memberi dukungan moril kepada keluarga korban dengan berjaga di lokasi. Tim SAR gabungan terus bekerja siang malam untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal di bawah puing.(red-056)