Dugaan Bimbel Telibat Kecurangan UTBK SNBT 2025

    0
    141

    Diselidiki Tim SNPMB

     

    JAKARTA, Cakrayudha-hankam.com – Tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mengungkapkan adanya indikasi keterlibatan salah satu lembaga bimbingan belajar di Yogyakarta dalam praktik kecurangan pada Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2025.

    Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Tim Penanggung Jawab SNPMB, Prof. Eduart Wolok, dalam konferensi pers daring pada Selasa (29/4/2025).

    “Terjadi kecurangan di 13 Pusat UTBK, dengan 50 peserta yang terlibat dan 10 orang berperan sebagai joki,” ungkap Prof. Eduart melalui siaran di akun YouTube resmi SNPMB ID.

    Eduart menjelaskan bahwa temuan ini merupakan hasil investigasi panitia terhadap pelaksanaan UTBK di berbagai lokasi ujian. Namun, ia tidak menyebutkan secara spesifik nama lembaga yang terlibat.

    Ia mengungkapkan bahwa keterlibatan bimbingan belajar (bimbel) ini masih dalam tahap penyelidikan.

    “Belum ada kepastian apakah dari 4.000 anomali yang terdeteksi, salah satunya terkait dengan bimbel di Yogyakarta ini,” ujarnya, merujuk pada ribuan nama peserta yang diduga melakukan kecurangan pada awal pelaksanaan UTBK tahun ini.

    Eduart menjelaskan bahwa dugaan keterlibatan bimbel tersebut dapat berasal dari dua kemungkinan. Pertama, lembaga bimbel mungkin menyediakan joki untuk menggantikan peserta dalam ujian.

    Kedua, bimbel tersebut bisa jadi secara sengaja mengikuti UTBK dengan tujuan merekam soal-soal yang kemudian akan digunakan sebagai materi pelatihan di tahun berikutnya, termasuk untuk pengembangan modul belajar dan latihan soal.

    Klaim bimbingan belajar (bimbel) yang selalu menjamin 100 persen kelulusan UTBK menimbulkan tanda tanya, menurut Eduart. Ia menjelaskan bahwa Tes Potensi Skolastik mengukur kemampuan akademis peserta, yang sangat bergantung pada usaha individu masing-masing. “Bagaimana mungkin bimbel bisa menjamin kelulusan 100 persen?” tanyanya.

    Eduart juga menambahkan bahwa dugaan keterlibatan bimbel dalam praktik kecurangan UTBK bukanlah isu baru. Ia mencatat bahwa pola dan jadwal bimbel yang disesuaikan dengan jadwal UTBK menunjukkan adanya kemungkinan keterkaitan.

    Ia mengingatkan bahwa bimbel yang berkualitas biasanya berakhir satu minggu sebelum UTBK, namun ada bimbel yang dijadwalkan berakhir pada 5 Mei 2025, bersamaan dengan akhir periode UTBK.

    Selain itu, Eduart menyoroti tantangan dalam memberantas praktik kecurangan semacam ini. Ia menyatakan bahwa selama masih ada permintaan dari calon peserta dan dukungan dari orang tua, praktik perjokian dan manipulasi dalam UTBK akan sulit untuk dihilangkan.

    Proses ini memerlukan biaya yang cukup besar, yang berarti melibatkan orang tua. Kami berharap, selama ada permintaan untuk layanan ini, metode yang digunakan akan terus berkembang seiring waktu,” ujarnya.

    Sebagai penutup, Eduart menekankan pentingnya kesadaran peserta untuk mengikuti UTBK dengan jujur dan adil.

    “Kami mendorong sikap sportif, karena panitia telah menyediakan layanan try out dan contoh soal. Namun, sering kali ada protes. Mengapa contoh soal tidak sama? Meskipun demikian, model dan pola soal dapat dipelajari dari situ,” tutupnya. (Red-033)